Arum merasa semakin kacau dan galau. Di satu sisi, ia punya semua bukti yang menunjukkan Reza sebagai pelaku pembunuhan berantai. Di sisi lain, ia tahu bahwa orang-orang yang mati di tangan Reza bukan korban yang benar-benar tak bersalah. Tangannya mengepal di atas meja.
Sistem hukum yang selama ini ia yakini ternyata tidak sehitam-putih yang ia kira. Ia telah melihat bagaimana bukti bisa dimanipulasi, bagaimana orang-orang yang bersalah bisa tetap bebas hanya karena mereka punya uang dan kuasa. Reza benar. Jika hukum bisa dibeli, lalu di mana letak keadilannya? Tapi apakah itu alasan yang cukup untuk membenarkan pembunuhan?
“Lo kelihatan capek,” suara Rudi memecah keheningan.
Arum mendongak. Rudi berdiri di ambang pintu, membawa dua botol kecil kopi dingin. Ia melemparkan salah satunya ke arah Arum, yang langsung menangkapnya tanpa banyak bicara.
“Lo masih kepikiran soal dia?” tanya Rudi sambil membuka kaleng kopinya.
Arum menatapnya. “Rud, kira-kira kalau lo di posisi dia, apakah lo bakal ngelakuin hal yang sama?”
Rudi menghela napas panjang. “Gue nggak tahu, Ar. Gue nggak pernah kehilangan seseorang karena sistem yang bobrok ini.”
Arum menyesap sedikit kopinya, lalu berkata, “Gue juga nggak tahu. Tapi yang jelas, semakin gue gali kasus ini, semakin gue sadar kalau hukum nggak selalu bisa negakin kebenaran.”