Malam di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Reza berjongkok di tepi gedung parkir, matanya tajam menatap teropong sniper yang terpasang rapi di depannya. Lima bulan terakhir ia habiskan untuk belajar menjadi seorang sniper. Lima bulan latihan tanpa diketahui siapa pun. Selain itu, ia juga kembali berlatih parkour, sebuah olahraga yang dulu pernah ia tekuni semasa SMA.
Kini, semua latihan itu mencapai puncaknya. Adrian Surya berada dalam bidikannya.
Di dalam sebuah bar mewah, terlihat jelas Adrian duduk santai dengan segelas anggur, seolah dunia berada dalam genggamannya. Dengan senyum angkuhnya, dia melihat pemandangan di luar tempat itu. Reza menarik napas panjang. Jaraknya sempurna, posisinya stabil, dan targetnya tidak curiga.
Jari telunjuknya mulai menekan pelatuk.
PRANG!
Kaca bar itu pecah, sebuah tembakan secara samar terdengar lebih dulu. Bukan dari Reza, dan Adrian langsung tak nampak di jendela itu. Reza melihat semacam kegaduhan di sana. Dia melihat beberapa orang yang mungkin pengawal Adrian berlalu lalang di jendela itu.
Reza tak mempedulikannya, di pikirannya hanya ada satu fakta kalau seseorang telah mendahuluinya. Telah mendahului melakukan pembunuhan terhadap Adrian, targetnya. Reza segera mengalihkan teropongnya ke gedung-gedung sekitar bar itu. Di atap sebuah gedung seberang bar, tampak seseorang yang sedang bangkit berdiri dengan membawa sebuah senapan laras panjang yang mungkin sama dengan yang ia bawa.
“Brengsek,” desisnya. Siapa pun dia, dia juga mengincar Adrian. Reza tak punya waktu. Ia membongkar senjatanya dengan cepat, memasukkannya kembali ke dalam tas, lalu bergegas turun melalui tangga darurat. Saat ia keluar dari gedung parkir, suara sirene mulai memenuhi udara. Polisi akan tiba dalam hitungan menit. Di sudut gang yang gelap, ia menarik ponselnya dan menekan nomor yang sudah dihafalnya.
“Dik.” Hening sejenak sebelum suara Dika terdengar di seberang.
“Reza? Ngapain lo? Ini udah malem.”
“Gue butuh lo sekarang.”
Nada suara Reza membuat Dika terdiam sejenak. “Lo kenapa? Lo baik-baik aja?”
Reza menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikutinya. “Gue nggak bisa ngejelasin di telepon. Tapi gue perlu tahu sesuatu.”
Dika menghela napas. “Lo ini kenapa sih? Lo lagi di mana?”
Reza menatap ke arah gedung seberang. “Ada yang baru aja mati malam ini.”
Dika terdiam beberapa saat. “Maksud lo?”
“Seseorang baru saja membunuh Adrian Surya,” jawab Reza akhirnya.
Dika mengumpat pelan. “Adrian? Itu pejabat yang… Tunggu, lo ada di sana?”
Reza mengabaikan pertanyaannya. “Gue perlu tahu, siapa aja yang punya dendam atau punya masalah sama dia.”
“Reza, lo nggak lagi main-main sama hal yang lebih besar dari lo, kan?” suara Dika terdengar waspada.
Reza menyeringai tipis. “Mungkin. Tapi gue butuh jawaban sekarang.”
Dika menghela napas berat. “Lo harus kasih gue alasan kenapa tiba-tiba lo tertarik sama Adrian Surya.”
Reza menatap langit malam. “Karena gue baru aja hampir ngebunuh dia.” Di seberang telepon, Dika terdiam lama.
“Lo serius?”
“Gue serius. Tapi seseorang ngedahuluin gue.”