Telepon berdering di tengah malam yang sunyi. Reza menatap layar ponselnya dengan ekspresi datar. Nomor tak dikenal. Tapi ia tahu siapa yang menelepon. Dengan napas terkontrol, ia menggeser tombol hijau.
“Reza, ini gue. Bukan Tari. Gue Arum.”
“Akhirnya lo berhenti pakai topeng, ya?” ujar Reza dengan nada sedikit ketus.
“Gue tahu lo yang ngebunuh mereka.” Nada suara Arum tegas, tanpa ragu sedikit pun. Reza menggeleng pelan, meski Arum tak bisa melihatnya.
“Lucu, ya. Gue udah lama ngeduga lo emang bukan sekadar penonton biasa.”
“Gue detektif, Reza. Gue tahu apa yang telah lo lakuin. Lo bunuh mereka satu per satu, dan tadi Adrian Surya lo jadiin korban berikutnya.”
Reza menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Arum, lo percaya diri banget seolah lo tahu semua hal. Tapi sayangnya, kali ini lo salah.”
“Jangan ngecoba ngebantah, Za. Gue tahu ini ulah lo.”
“Untuk yang lain? Mungkin. Tapi untuk Adrian Surya?” Reza berhenti sejenak, suaranya lebih serius. “Gue nggak ngebunuh dia, ibu detektif yang terhormat.”
“Lo bisa bilang apa saja, tapi fakta tetap fakta.”
Reza tertawa kecil. “Fakta? Lo yakin lo masih bisa bedain fakta sama asumsi?”
“Gue punya bukti. Semua jejak mengarah ke lo.”
“Mungkin karena lo terlalu fokus nyari gue, lo nggak sadar ada orang lain yang juga ikutan main di permainan ini.”