Arum menatap layar ponselnya. Pesan dari tim forensik muncul di layar, membuat dadanya terasa sesak. Satu lagi korban. Satu lagi saksi penting ditemukan tewas. Ia melangkah cepat memasuki ruang penyelidikan, di mana Rudi sudah menunggunya dengan ekspresi serius.
“Ada yang baru?” tanya Arum, mencoba menekan emosi yang bergejolak dalam dirinya.
Rudi mengangguk, menyodorkan berkas laporan. “Bukan cuma satu, Ar. Dua orang sekaligus menghilang dalam semalam, sejak Adrian Surya tewas. Dan satu lagi... ditemukan pagi ini. Tertembak di dalam mobilnya.”
Arum menghela napas panjang. “Jadi ini bukan lagi tentang Reza.”
Rudi menatapnya tajam. “Kelihatannya begitu. Reza memang memburu mereka, tapi sekarang ada orang lain yang juga bergerak. Dan mereka lebih cepat.”
Arum membuka berkas dan mulai membaca. Beberapa detik kemudian, dahinya berkerut. “Ini nggak sesuai dengan pola Reza.”
Rudi mengangguk, duduk di kursinya sambil menyilangkan tangan. “Persis. Reza selalu membuat pembunuhannya terlihat seperti kecelakaan atau punya pesan tertentu. Tapi yang ini? Tertembak di dalam mobilnya, tanpa ada upaya untuk menyamarkan? Satu lagi, CCTV di sekitar kejadian tiba-tiba semuanya rusak.”