Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #39

38

Reza menyesap kopinya dengan tenang, meskipun dadanya berdegup kencang. Ia tahu pertemuan ini akan berbeda. Di depannya, Arum—bukan lagi Tari si penonton setia—duduk dengan sorot mata yang tajam, penuh kewaspadaan. Bukan lagi seseorang yang ingin mendengar perspektifnya, tapi seorang detektif yang datang untuk menangkapnya. Reza menyandarkan punggungnya ke kursi, memainkan sendok di tangannya. “Jadi... akhirnya lo datang dengan seragam asli lo?”

Arum tidak tersenyum. “Gue mau ngomong, Za.”

“Ngomong?” Reza terkekeh. “Rasanya lo udah nggak ada niat buat sekadar ngobrol biasa, deh.”

Arum menatapnya tajam. “Gue ke sini bukan untuk basa-basi.”

Reza menaruh sendoknya, menatap lurus ke mata Arum. “Lalu? Apa ini momen gue disuruh nyerahin diri?”

Arum menarik napas dalam, mencoba mengendalikan emosinya. “Gue punya cukup bukti buat nangkap lo.”

Reza tertawa kecil. “Bukti? Bukti kalau gue ngebunuh orang-orang yang udah korupsi selama puluhan tahun? Orang-orang yang bikin hidup rakyat sengsara?”

Arum mengepalkan tangannya. “Keadilan nggak bisa ditegakin dengan pembunuhan.”

Reza mengangkat alis. “Lalu keadilan yang mana? Keadilan yang lo bela? Keadilan yang selama ini cuma jadi alat buat mereka yang berkuasa?”

Hening.

Arum menatapnya dalam-dalam, mencoba membaca pikirannya. “Gue ngerti apa yang mereka lakuin ke keluarga lo, Za. Gue tahu bagaimana sistem ini ngehancurin hidup lo.”

Reza mengejek. “Lucu. Lo tahu, tapi lo tetap ngebela mereka.”

“Gue nggak ngebela mereka,” potong Arum cepat. “Gue juga nggak ngebela lo.”

Reza menatapnya sejenak sebelum tersenyum tipis. “Jadi lo di tengah?” Arum tak menjawab.

Reza tertawa kecil, menggeleng. “Keadilan nggak bisa berdiri di tengah, Ar. Lo harus milih.”

Arum menghela napas panjang. “Gue di sini bukan untuk debat soal moralitas, Za. Gue di sini buat ngebawa lo ke tempat yang seharusnya.”

Reza mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya merendah. “Dan kalau gue bilang... gue bukan satu-satunya yang ada di permainan ini?” Arum mengerutkan kening.

“Lo pikir gue satu-satunya yang ngincer mereka?” lanjut Reza. “Ada orang lain di luar sana yang juga nggak mau skandal ini terungkap. Bedanya, gue ngebunuh mereka buat keadilan. Mereka ngebunuh untuk nutupin semuanya. Nutupin kebusukan mereka.”

Arum mengepalkan tangannya lebih erat. “Dan lo pikir itu berarti lo lebih benar?”

Reza tersenyum sinis. “Lo bebas berpikir apa aja. Tapi lo tahu ini bukan sekadar kasus pembunuhan biasa. Lo tahu ini lebih besar dari yang lo kira.”

Arum tetap diam, tetapi kali ini kebimbangannya terlihat jelas. Reza menyeringai. “Jadi... lo masih yakin mau nangkap gue, Detektif?”

 

Lihat selengkapnya