Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #41

40

Malam begitu sunyi. Reza bersembunyi di balik bayangan pohon besar, mengamati rumah megah di depannya. Hadi Wiratama, sosok yang selama ini ia buru. Reza menarik napas dalam sebelum bergerak lincah menuju pagar belakang. Tak ada penjaga. Tak ada alarm berbunyi. Seolah rumah ini menganggap dunia luar tidak bisa menyentuhnya. Rumah dengan bangunan bergaya klasik dua lantai yang terletak di pinggir kota ini, memang menjadi tempat favorit sang pemilik untuk menghilangkan penatnya.

Reza melompati pagar dengan gerakan mulus, mendarat tanpa suara di atas rerumputan yang masih basah. Ia tahu rumah peristirahatan Hadi Wiratama yang ini memang tidak memiliki penjagaan ketat seperti rumah utamanya. Reza yang sudah mengamati Hadi lebih dari sebulan, sudah tahu kapan buruannya datang ke tempat itu.

Reza mengamati lantai dua, cahaya lampu masih menyala, menciptakan siluet samar di balik jendela di ujung bangunan. Hadi ada di atas. Bagus. Artinya, ia punya waktu untuk menyelinap ke dalam dan mencari sesuatu yang bisa memperkuat alasan mengapa Hadi harus dihabisi. Ia berjalan mendekati pintu belakang dan mengeluarkan alat kecil dari sakunya. Klik. Kunci terbuka dalam hitungan detik. Ia melangkah masuk.

Udara di dalam rumah terasa berbeda, seperti ruang yang dipenuhi rahasia. Bau kayu tua, parfum mahal, dan aroma dokumen lama bercampur menjadi satu. Reza bergerak hati-hati, menyusuri lorong menuju ruang kerja. Di sanalah biasanya orang seperti Hadi menyimpan sesuatu yang penting, seperti bukti transaksi, dokumen rahasia, atau bahkan sesuatu yang lebih gelap.

Ia berhenti di depan pintu yang terlihat lebih kokoh dibanding ruangan lain. Ruang kerja. Perlahan, ia mencoba kenopnya. Terkunci. Reza mendecak pelan. Sudah menduga. Ia menunduk, menyelipkan alat pembobol kunci. Butuh beberapa detik sebelum terdengar bunyi klik halus, dan pintu pun terbuka. Di dalam, ruangannya besar, dengan rak buku yang menjulang tinggi dan meja kayu besar di tengah. Lampu kecil menyala di sudut ruangan, cukup untuk memperlihatkan dokumen-dokumen yang berserakan.

Reza mendekat ke meja dan mulai mencari. Tangannya menyusuri tumpukan berkas, mencari sesuatu yang bisa mengungkap sejauh mana keterlibatan Hadi dalam skandal yang selama ini ia kejar. Dan saat itu, matanya menangkap sesuatu. Sebuah amplop cokelat dengan segel resmi. Tangannya meraihnya, membukanya dengan hati-hati. Matanya menyipit membaca nama-nama di dalamnya. Bukti transaksi, daftar nama pejabat, dan di antara nama-nama itu… Hadi Wiratama. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ini bukan hanya spekulasi lagi. Ini adalah fakta.

Reza mengepalkan tangannya. Ia tak perlu ragu lagi. Tapi sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, suara langkah kaki terdengar dari atas. Hadi masih di lantai dua. Tak tahu bahwa ajalnya sedang menunggu di bawah. Reza menyelipkan amplop itu ke jaketnya, lalu melangkah keluar. Malam ini, ia harus membuat keputusan.

 

***

Lihat selengkapnya