Di suatu tempat yang gelap, seseorang berpakaian serba hitam mengamati rumah megah itu dari kejauhan. Melalui teropong senapannya, ia bisa melihat dengan jelas sosok Hadi Wiratama yang bergerak di lantai dua rumahnya.
“Alpha-1, posisi target terkonfirmasi.” Suaranya datar, berbicara melalui alat komunikasi kecil di telinganya. Beberapa detik kemudian, suara dingin membalas dari seberang.
“Eksekusi segera.”
Sniper itu tidak langsung menarik pelatuk. Tugasnya bukan sekadar menembak. “Konfirmasi ulang. Apa harus dilakukan sekarang?” tanyanya, memastikan.
“Target adalah ancaman. Dia harus dihilangkan sebelum terjadi kebocoran lebih jauh. Ini sudah perintah final!” suara di seberang terdengar tegas. Sniper tetap diam beberapa detik. Dari tempatnya, ia bisa melihat ada dua sosok lain di dalam rumah. Dua orang yang berada di lantai satu. Mereka bukan bagian dari rencana.
“Ada dua individu lain berada di dalam lokasi. Salah satunya sepertinya bersenjata,” lapornya.
“Identifikasi?" tanya seseorang di seberang dengan penuh tanda tanya. Sniper memperbesar apa yang sedang ia lihat melalui teropongnya. Sosok pria yang ia lihat berdiri dengan ekspresi tegang, sementara seorang wanita di dekatnya tampak berbicara padanya dengan menodongkan pistol.
“Belum ada kepastian. Tapi kemungkinan besar, mereka bukan bagian dari target utama.”
Hening sejenak. Lalu, suara dari seberang berbicara lagi.
“Prioritaskan target utama. Jika dua individu tadi menghalangi, eliminasi sesuai kebutuhan.”
Jari sniper mengencang di sekitar pelatuknya. Ia sudah melakukan banyak eksekusi sebelumnya, tetapi malam ini terasa berbeda. Target utama bukan orang biasa. Ia tahu kalau Hadi Wiratama adalah salah satu dari sedikit pejabat yang mengetahui terlalu banyak hal, tetapi tidak cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri. Dan sekarang, ia hanya beberapa detik dari kematian. Tapi ada variabel lain yang belum diperhitungkan. Dari teropongnya, sniper melihat kedua individu akan bergerak ke lantai dua. Siapa mereka? Dan yang lebih penting lagi... mengapa mereka ada di sana pada saat yang sama? Sniper kembali ke radio komunikasi.
“Perlu waktu tambahan untuk observasi. Kedua individu di lantai satu akan bergerak ke lantai dua.” Tapi suara di seberang tidak mau kompromi.
“Eksekusi sekarang!”
Klik. Senapan terkokang. Dan di dalam rumah, kematian sudah menunggu di ujung laras.
PRANG!
Suara kaca pecah menggelegar di tengah kesunyian, menggema di seluruh rumah. Arum dan Reza—yang masih berada di lantai satu—kaget bukan kepalang. Suara itu datang dari atas. Sesaat, keheningan melingkupi ruangan. Lalu suara tubuh jatuh terdengar dari lantai dua.
“Ayah...?!” bisik Arum, matanya melebar. Tanpa pikir panjang, ia berlari menuju tangga.
“Arum, tunggu!” Reza berusaha menariknya, tapi Arum sudah lebih dulu mencapai anak tangga pertama.
PRANG! PRANG!