Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #43

42

Sirene masih meraung di kejauhan, bercampur suara komunikasi antar polisi yang memenuhi udara. Reza berlutut di tanah, tangannya terikat di belakang punggung. Meski tertangkap, ia tidak merasa kalah.

“Berdiri!” perintah seorang polisi, menekannya lebih keras. Reza menurut, tubuhnya sedikit oleng karena kehilangan banyak darah dari luka tembak di lengannya. Namun, senyum kecil masih tersungging di sudut bibirnya.

“Kalian datang terlambat,” gumamnya lirih.

Salah satu petugas yang memborgolnya menyeringai dingin. “Berhenti bicara. Kau sudah habis.” Arum yang berdiri tak jauh dari Reza segera melangkah maju.

“Jangan anggap kasus ini selesai,” katanya tegas. Semua mata tertuju padanya.

Seorang perwira polisi dengan ekspresi tegang mendekatinya. “Detektif Wiratama, Anda dalam keadaan darurat. Apa yang sebenarnya terjadi?” Arum menatap tubuh tak bernyawa ayahnya yang akan dimasukkan ke mobil ambulans. Matanya berkilat marah, bercampur air mata yang menetes.

“Bukan hanya Reza yang ada di sini,” katanya dingin. “Ada orang lain yang lebih besar, yang tidak ingin ada saksi tersisa.”

Perwira itu mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?” Arum mengambil napas dalam-dalam. Ia harus menjelaskan ini dengan benar, sebelum semuanya terlambat.

“Orang yang membunuh ayahku bukan Reza.” Seisi tempat itu terdiam. Beberapa polisi saling pandang, ragu dengan ucapannya.

Lihat selengkapnya