Gedung pengadilan dipenuhi suara kamera yang terus mengabadikan momen itu. Di kursi terdakwa, Reza tetap tenang. Ia tidak menunjukkan penyesalan, juga tidak meminta belas kasihan. Keputusannya sudah bulat sejak awal.
“Terdakwa Reza Pranoto dinyatakan bersalah atas pembunuhan berencana dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.” Suara palu hakim menggema. Di luar gedung pengadilan, ratusan orang berkumpul. Sebagian meneriakkan tuntutan, “Reza adalah pembunuh! Tempatnya di penjara!” Sebagian lagi membawa spanduk bertuliskan “Reza, Pemberantas Korupsi” dan “Keadilan Tidak Selalu Hitam Putih.”
Perdebatan semakin panas di media sosial. Tagar #KeadilanUntukReza menjadi trending di berbagai platform media sosial. Tokoh-tokoh masyarakat mulai bersuara. Beberapa aktivis HAM dan akademisi hukum menyatakan bahwa Reza memang bersalah, tetapi tidak sepenuhnya salah. Seorang profesor hukum pidana menulis:
“Jika hukum benar-benar bekerja, Reza tidak akan pernah melakukan ini. Sistem yang gagal telah melahirkan keadilan di luar jalur hukum. Masyarakat sudah bisa melihat hal ini. Tagar #KeadilanUntukReza adalah bukti nyatanya. ”
Sementara itu, seorang mantan jurnalis investigasi yang dulu pernah mengungkap kasus korupsi, tetapi akhirnya dipecat, menulis di akun pribadinya:
“Reza hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh negara. Kita boleh menyebutnya pembunuh, tapi jangan lupa bertanya: siapa yang sebenarnya lebih bersalah?”