Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #45

44

Cahaya sorot kamera menyorot tajam ke wajah seorang wanita paruh baya. Ratna Pranoto, ibu dari Reza Pranoto, duduk di kursi studio TV nasional dengan ekspresi yang sulit ditebak. Di depannya, seorang presenter berita terkemuka, Dian Maudina, menatapnya dengan penuh perhatian.

“Ibu Ratna, pertama-tama, terima kasih sudah bersedia hadir di sini. Kami tahu ini bukan situasi yang mudah bagi Ibu,” ujar Dian dengan nada hati-hati. Ratna mengangguk pelan. Jari-jari tuanya mencengkeram ujung rok, seolah berusaha bertahan di tengah badai hidupnya.

“Hari ini, kita akan membahas sesuatu yang sulit. Anak Ibu, Reza Pranoto, telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas serangkaian pembunuhan pejabat negara. Sebagian masyarakat menyebutnya kriminal, sebagian lagi menyebutnya pahlawan. Sebagai ibunya, bagaimana Ibu melihat Reza?”

Keheningan memenuhi ruangan. Ratna menarik napas panjang. Ia menatap kamera seakan berbicara langsung kepada setiap orang yang menyaksikan tayangan ini.

“Saya melihatnya sebagai anak saya,” jawabnya akhirnya. “Sebagai seorang ibu, saya tidak akan pernah bisa menerima kenyataan bahwa anak saya mengambil nyawa orang lain. Tapi sebagai seorang ibu juga, saya tidak bisa menutup mata pada kenyataan bahwa dia melakukan semua ini bukan hanya untuk dirinya sendiri.” Dian memperhatikan mata Ratna yang mulai berkaca-kaca.

Lihat selengkapnya