Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #46

45

Hujan turun rintik-rintik, menyelimuti pemakaman dengan suasana muram. Arum berdiri di antara batu-batu nisan, tubuhnya kaku sementara para pelayat mulai membubarkan diri. Beberapa pejabat penting yang hadir telah pergi lebih dulu, meninggalkan aroma parfum mahal yang bercampur dengan bau tanah basah.

Di hadapannya, nisan Hadi Wiratama berdiri kokoh dengan ukiran nama yang jelas.

“Ayah...,” gumamnya pelan. Tapi tidak ada jawaban. Hanya keheningan. Di belakangnya, suara langkah kaki terdengar mendekat. Arum tidak menoleh. Ia tahu siapa yang datang.

“Gue nggak tahu harus ngomong apa,” suara Rudi terdengar, tenang namun sarat makna. Arum menghela napas panjang, kedua tangannya mengepal. Matanya menatap tajam ke nisan, seolah mencari jawaban yang tak akan pernah ia temukan.

“Gue juga,” jawabnya datar. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara. Suasana semakin menyesakkan.

Rudi menatapnya dengan prihatin. “Ar... gue ngerti lo marah. Gue ngerti lo kecewa. Tapi...”

Arum menoleh cepat, ekspresinya dingin. “Tapi apa, Rud? Gue harus nerima semuanya begitu saja? Harus percaya kalau semua ini bagian dari permainan besar dan gue hanya bidak kecil yang nggak bisa berbuat apa-apa?”

Rudi terdiam. Arum menggeleng pelan, matanya menyipit menahan amarah dan rasa sakit yang bertumpuk di dadanya.

“Selama ini gue pikir gue ada di sisi yang benar. Bahwa hukum adalah alat keadilan. Bahwa jika gue bekerja cukup keras, gue bisa benerin semuanya. Tapi sekarang? Gue bahkan nggak ngerti lagi apakah gue harus percaya pada hukum itu sendiri.”

Rudi menarik napas dalam. “Lo masih bisa percaya pada diri lo sendiri, Ar.”

Arum terkekeh pelan, sarkastik. “Diri gue sendiri?” Ia menatap Rudi, matanya penuh dengan kebingungan dan kemarahan yang selama ini ia tahan. “Diri gue sendiri yang selama ini ngebela bokap tanpa ngerti siapa dia sebenarnya? Diri gue sendiri yang hampir nangkap seorang pria atas kejahatan yang bahkan bukan sepenuhnya miliknya? Diri gue sendiri yang berpikir kalau ada yang benar dan salah dalam dunia ini, padahal semuanya abu-abu?”

Rudi diam. Rudi tidak bisa membantahnya.

Lihat selengkapnya