Arum duduk diam di meja kerjanya, menatap berkas-berkas yang berserakan. Tangannya menggenggam pena, tetapi pikirannya melayang ke berbagai arah. Semua yang ia yakini, semua prinsip yang selama ini ia pegang, kini terasa goyah. Matanya sedikit bengkak, karena ia menangis seharian setelah bertemu ibunya kemarin.
Apakah hukum benar-benar bisa memberikan keadilan?
Bayangan wajah Reza di ruang interogasi terlintas dalam benaknya. Tatapan pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Tidak ada ketakutan, tidak ada permohonan ampun. Yang ada hanyalah keyakinan, seolah ia telah melakukan sesuatu yang benar.
“Ar.” Suara Rudi membuyarkan lamunannya. Arum mengangkat wajah, menatap rekan kerjanya yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi serius.
“Rud, apa lo benar-benar percaya kalau yang kita lakukan selama ini adalah sebuah keadilan?” Arum bertanya dengan suara pelan, hampir berbisik.
Rudi menatapnya dengan tatapan prihatin. “Lo tahu jawaban dari pertanyaan itu tidaklah sederhana.”