Punchline Terakhir

Lestyo Haryanto
Chapter #48

47

Arum berdiri di depan sebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Matanya menatap pintu kayu yang sedikit kusam. Dinding depan pun mulai pudar warnanya tertutup pot-pot tanaman di teras yang tampak tak terurus. Rumah ini adalah tempat tinggal Ratna, ibu Reza.

Butuh waktu lama baginya untuk memutuskan datang ke sini. Setelah semua yang terjadi. Setelah kematian ayahnya, setelah Reza dijatuhi hukuman seumur hidup di persidangan pertama.

Arum masih belum tahu apa yang ia cari dari pertemuan ini. Mungkin jawaban. Mungkin hanya sekadar pemahaman bahwa di balik semua ini, ada dua ibu yang kehilangan anak mereka dengan cara yang berbeda.

Dengan tarikan napas dalam, Arum mengetuk pintu. Suara langkah kaki terdengar dari dalam sebelum akhirnya pintu terbuka, memperlihatkan sosok Ratna yang lebih kurus dari yang ia lihat di layar televisi. Sejenak, Ratna hanya diam, menatapnya tanpa ekspresi. Tapi Arum bisa melihat kesedihan di mata perempuan itu, kelelahan yang lebih dalam daripada sekadar rasa letih fisik.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Ratna, suaranya tenang, tetapi terasa penuh dengan luka yang belum sembuh.

Arum menelan ludah. “Saya… ingin bicara dengan Ibu.”

Ratna menatapnya lama sebelum akhirnya menghela napas dan membuka pintu lebih lebar. “Masuklah.”

Arum melangkah masuk, matanya menyapu ruangan yang terasa hangat meski sederhana. Foto-foto keluarga masih tergantung di dinding, termasuk satu foto Reza sewaktu kecil, tersenyum polos di pelukan ayahnya.

Ratna menuangkan teh ke dalam dua cangkir dan menyodorkannya pada Arum sebelum duduk di seberangnya. “Saya tahu siapa Anda,” katanya akhirnya. “Detektif yang menangkap Reza.”

Lihat selengkapnya