Arum duduk sendirian di bangku taman, membiarkan angin malam membelai wajahnya. Suara kendaraan di kejauhan terdengar samar, bercampur dengan langkah-langkah pejalan kaki yang lewat. Hatinya masih penuh dengan pertanyaan, dengan kebingungan yang tak kunjung reda.
Setelah semua yang ia alami, kematian ayahnya, pengkhianatan yang terungkap, dan perdebatan tentang keadilan dan kebenaran, ia mulai menyadari sesuatu yang selama ini mungkin ia abaikan. Setiap keluarga punya cerita dan rahasia masing-masing. Termasuk dirinya sendiri.
Ponselnya berbunyi. Rudi meneleponnya.
“Lo di mana? Lo belum pulang ke apartemen? Gue barusan ke situ,” tanya Rudi di seberang sana.
“Gue masih di luar. Gue butuh udara segar.”
“Lo masih berpikir soal nyokap lo?”
Arum terdiam. Ia dan ibunya belum bicara lagi sejak pertemuan terakhir itu. Lestari menyalahkannya atas kematian ayahnya, dan Arum pun tak bisa membantah bahwa sebagian dari dirinya merasa bersalah.
“Gue mulai berpikir,” gumam Arum, “kalau selama ini gue hidup dalam kebohongan yang gue anggap sebagai kebenaran.”
“Maksud lo?”
Arum menghela napas panjang. “Gue selalu percaya pada hukum. Pada sistem yang kita jaga. Gue pikir jika gue cukup gigih, cukup adil, maka gue bisa membawa keadilan untuk semua orang. Tapi sekarang… gue nggak yakin lagi.” Rudi terdiam, membiarkan Arum melanjutkan.
“Reza percaya bahwa keadilan hanya bisa ditegakkan dengan tangannya sendiri. Gue percaya bahwa hukum adalah jalan satu-satunya. Tapi lihat di mana aku dan dia sekarang.” Ia tertawa kecil, getir. “Bokap gue mati, Reza di penjara, nyokap gue membenci gue, dan orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab mungkin masih bebas berkeliaran.”
Rudi akhirnya bicara, suaranya lembut tapi tegas. “Ar, lo tahu dunia nggak pernah hitam dan putih. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti percaya pada apa yang lo yakini.”