Pundak Si Sulung

M Helmi Akhdan
Chapter #1

Hari Dunia Berubah

Hujan rintik-rintik seolah turut menangis di tengah pemakaman sore itu. Langit berwarna kelabu, sama persis dengan suasana hati Raina yang berdiri kaku di pinggir liang lahat. Di sampingnya, Bu Laksmi ibunya terus menjerit histeris, dipapah oleh kerabat yang ada di sebelah kiri dan kanan. Tangisannya memecah keheningan sore itu, membuat siapa saja yang mendengarnya ikut merasakan perih yang sama. Lebih jauh ke bawah, ada Dika dan Sari, kedua adik Raina. Dika yang baru berusia lima belas tahun berusaha tegar, meski matanya merah dan bibirnya gemetar menahan tangis. Sedangkan Sari, yang masih dua belas tahun, hanya bisa menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat lengan kakak pertamanya itu.

Raina sendiri tidak meneteskan air mata. Entah kenapa, sejak pagi tadi rasanya hatinya mati rasa. Ia merasa seperti ada karung goni yang berisi beban dunia diletakkan tepat di atas bahunya yang masih muda. Ia baru saja lulus SMA dua hari yang lalu. Rencana masa depannya sudah tersusun rapi: mendaftar kuliah, mengambil jurusan ekonomi, lalu bekerja keras agar keluarganya hidup lebih baik. Semua mimpi itu kini terkubur bersamaan dengan peti kayu yang perlahan ditutup tanah merah oleh para penggali makam.

"Kasihan sekali anak-anak itu," bisik seseorang di dekatnya, suaranya cukup keras hingga terdengar jelas oleh Raina."Iya, apalagi Raina. Dia anak pertama. Sekarang ayahnya sudah tiada, berarti dia yang harus menggantikan peran kepala keluarga," jawab suara lain."Berat sekali nasibnya. Padahal masih muda, cantik pula. Tapi mau bagaimana lagi, itulah risiko menjadi anak sulung. Segala beban jatuh ke pundaknya."

Bisik-bisik itu menusuk telinga Raina lebih tajam daripada jarum. Ia menoleh sekilas, melihat tetangga dan saudara yang berkumpul. Ada tatapan iba di mata mereka, tapi ada juga tatapan yang seolah sudah menilai masa depan Raina akan suram. Raina menghela napas panjang, lalu mengeratkan genggamannya pada tangan dingin ibunya. Dalam hatinya, ia berbisik pelan, seolah berbicara pada ayahnya yang baru saja pergi: "Yah, tenang saja. Raina janji akan menjaga Ibu, Dika, dan Sari. Raina akan menjadi pengganti Ayah. Raina akan pastikan mereka tidak kekurangan apa pun. Raina janji..."

Lihat selengkapnya