Pagi itu, matahari baru saja mengintip malu-malu dari balik bukit, namun Raina sudah bangun sejak pukul tiga dini hari. Suasana rumah masih sangat sunyi, hanya terdengar suara jangkrik yang mulai perlahan menghilang berganti dengan kokok ayam jantan. Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan ibunya dan adik-adiknya, Raina berjalan menuju dapur. Di sana, di bawah cahaya lampu bohlam yang remang, ia mulai menyibukkan diri. Menanak nasi, menumis sayur, dan menyiapkan bekal untuk adik-adiknya sekolah nanti pagi. Gerakannya cekatan, meski rasa kantuk masih berat menempel di kelopak matanya.
Ini adalah hari pertamanya menjalani peran baru. Bukan lagi sebagai pelajar yang sibuk dengan tugas sekolah, ujian, atau kegiatan ekstrakurikuler. Mulai hari ini, ia adalah pencari nafkah. Setelah selesai dengan urusan dapur, ia bergegas mandi dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki—kemeja warna putih bersih dan rok selutut sederhana. Ia menyisir rambutnya rapi, berusaha tampil sebaik mungkin, meski ia sadar, pengalaman kerjanya nol besar.
Saat ia keluar dari kamar, ibunya sudah duduk di kursi makan, menunggu makanan disajikan. Wajah Bu Laksmi masih terlihat pucat dan lesu, lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas, tanda ia juga tidak tidur nyenyak semalam.
"Mau ke mana kamu pagi-pagi sekali pakai baju rapi begitu?" tanya Bu Laksmi dengan suara berat."Mau cari kerja, Bu. Ada beberapa pabrik roti dan toko kue di pinggir kota, kata tetangga mereka sedang butuh tenaga kerja. Raina coba ke sana," jawab Raina sambil menuangkan nasi ke piring ibunya.
Bu Laksmi menghela napas panjang, lalu menatap putrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, tapi lebih banyak lagi rasa khawatir akan masa depan yang tak menentu. "Yah... kalau memang harus begitu. Ibu tidak bisa membantu apa-apa, Raina. Ibu tidak punya keahlian, cuma bisa diam di rumah menunggu nasib datang. Kamu harus pintar-pintar cari uang, Nak. Kita butuh uang untuk makan, buat bayar listrik, buat biaya sekolah Dika dan Sari. Jangan sampai kekurangan, nanti kita malu sama tetangga."
Kata-kata itu sederhana, namun bebannya luar biasa. Raina hanya mengangguk pelan, menelan nasi yang terasa hambar di mulutnya. "Iya, Bu. Raina usahakan yang terbaik."
Setelah mengantar Dika dan Sari ke gerbang sekolah, Raina langsung melanjutkan perjalanannya menuju kawasan industri kecil di pinggiran kota. Jaraknya lumayan jauh, ia harus menempuh perjalanan hampir satu jam dengan berjalan kaki dan menumpang angkutan umum. Di dalam angkot yang sempit dan berdesak-desakan, pikiran Raina melayang. Ia ingat betul, dulu ayah selalu mengantarnya ke mana saja dengan sepeda motor tua miliknya, selalu mengingatkan untuk hati-hati. Sekarang, ia harus berjuang sendiri.
Pabrik roti pertama yang ia tuju terlihat ramai. Banyak orang yang datang melamar pekerjaan, sama seperti dirinya. Raina mengantre dengan sabar, menunggu giliran namanya dipanggil. Saat masuk ke ruangan kecil tempat wawancara, seorang bapak paruh baya dengan kacamata tebal menatap berkas lamaran Raina yang sederhana.