Pundak Si Sulung

M Helmi Akhdan
Chapter #3

Sambut yang Pahit

Sudah sebulan berlalu sejak Raina mulai bekerja di toko roti milik Bu Siti. Rutinitasnya berjalan kaku dan pasti, berulang-ulang setiap hari tanpa ada hari libur. Jam tiga pagi ia sudah bangun, menyalakan kompor, memasak nasi dan lauk pauk untuk sarapan dan makan siang seluruh keluarga. Setelah memastikan adik-adiknya bangun dan bersiap sekolah, ia bergegas berangkat kerja, seringkali hanya berbekal sepotong nasi dan sedikit sambal yang ia bungkus daun pisang.

Pekerjaan di toko roti sangat berat. Ia harus menguleni adonan tepung yang beratnya puluhan kilogram, mengangkat nampan-nampan berisi roti panas keluar dari oven yang suhunya menyengat kulit, serta membersihkan sisa-sisa tepung yang berceceran di lantai. Badannya yang kurus seringkali terasa remuk sepulang kerja. Kakinya bengkak, tangannya kasar dan penuh kapalan, dan punggungnya sering terasa nyeri hebat hingga susah tidur di malam hari. Namun Raina tak pernah mengeluh. Ia selalu berusaha pulang dengan senyum, berharap kehadirannya membawa kebahagiaan di rumah yang masih berduka.

Namun, harapan itu seringkali patah begitu saja saat ia melangkah masuk ke pintu rumahnya sendiri.

Sore itu, matahari sedang terbenam, menyisakan warna jingga kemerahan di ufuk barat. Raina berjalan pulang dengan langkah gontai, tas kain sederhana berisi gaji pertamanya tergenggam erat di tangan kanannya. Ia berharap sore ini akan berbeda. Ia berharap ibunya akan tersenyum, mengelus kepalanya, dan berkata, "Terima kasih, Nak. Kamu hebat."

Begitu masuk ke rumah, ia melihat ibunya sedang duduk di teras, mengipasi diri dengan tangan karena cuaca yang panas. Wajah Bu Laksmi terlihat cemberut, bibirnya mengerucut seolah ada hal yang tidak beres sejak pagi tadi.

"Assalamualaikum, Bu," sapa Raina lemah, sambil mengusap keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah kusam.

"Waalaikumsalam," jawab Bu Laksmi singkat, tanpa menoleh sedikit pun ke arah putrinya. "Lama sekali kamu pulang. Ibu sudah lapar dari tadi. Kamu tidak tahu ya, Ibu di rumah sendirian, tidak ada yang ngurusin? Kamu pulang sore begini, siapa yang mau masak? Mau bikin Ibu mati kelaparan di sini?"

Raina menghentikan langkahnya sejenak, hati kecilnya perih mendengar sambutan itu. Ia baru saja bekerja selama dua belas jam penuh, menguras tenaga sampai rasanya tulang-tulangnya mau patah, tapi yang pertama kali ditanyakan ibunya hanyalah soal makanan.

Lihat selengkapnya