Hari Minggu pagi. Bagi kebanyakan orang, hari ini adalah hari untuk beristirahat, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar bersantai menikmati waktu luang. Namun bagi Raina, hari Minggu tidak ada bedanya dengan hari-hari lainnya. Justru kadang lebih sibuk, karena ia harus membereskan rumah yang lebih berantakan dari biasanya, mencuci tumpukan baju kotor seisi rumah yang menggunung, serta menyiapkan makanan yang lebih banyak karena adik-adiknya libur sekolah dan ibunya lebih banyak diam di rumah.
Pagi itu, cuaca cukup cerah. Matahari bersinar terang, menyinari halaman rumah yang tidak terlalu luas. Raina sedang sibuk menjemur pakaian di halaman depan, tepat di samping pagar rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Keringat menetes dari pelipisnya, membasahi kerah baju lusuh yang ia pakai. Ia mengangkat satu per satu baju berat yang masih basah, merentangkannya di tali jemuran dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa.
Dari arah kiri dan kanan, terdengar suara tawa dan obrolan akrab. Beberapa tetangga sedang berkumpul di depan pagar rumah Bu Siti, ibu pemilik toko roti tempat Raina bekerja. Mereka duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu tua, sambil mengupas kacang panjang dan sesekali menyeruput teh hangat. Topik pembicaraan mereka yang awalnya tentang harga sayur dan kebutuhan pokok, perlahan beralih ke arah Raina yang sedang bekerja keras sendirian di halaman rumahnya.
"Lihat tuh, Raina. Pagi-pagi sudah sibuk sekali," ucap Bu Siti, suaranya terdengar jelas menembus celah-celah pagar bambu. Ada nada iba di suaranya, tapi bagi Raina yang mendengarnya, rasa iba itu seringkali terasa lebih menyakitkan daripada cemoohan.
"Iya, kasihan sekali anak itu," sahut Bu Yati, tetangga sebelah rumah Raina. "Masih muda, cantik, tapi nasibnya malang sekali. Ayahnya baru saja meninggal, eh dia yang harus menanggung semuanya. Padahal kan seharusnya anak muda itu waktunya buat senang-senang, sekolah, cari jodoh, bukan malah jadi kuda beban di rumah sendiri."
Raina berhenti sejenak dari kegiatannya. Telinganya menangkap setiap kata yang terucap. Tangannya yang sedang memegang selembar kain sarung ibunya berhenti bergerak. Ia menundukkan kepalanya lebih dalam, berharap mereka akan berhenti bicara, berharap ia bisa menjadi tak terlihat. Namun obrolan itu justru makin panas.
"Benar kata Ibu Yati," sambung Bu Aminah, yang dikenal sebagai tetangga yang paling suka bergunjing. "Saya sih kalau jadi Raina, mending saya pergi saja dari rumah itu. Cari kerja di kota besar, cari orang kaya, terus baru pulang. Kenapa harus ngurusin ibu yang begitu, sama adik-adik yang masih kecil-kecil? Buang-buang masa muda saja."
"Ah, kamu ini ngomong sembarangan," sela Bu Siti lagi. "Kan itu kewajiban anak pertama. Dulu saya juga begitu. Tapi memang berat sih. Lihat saja Raina, badannya makin kurus kering. Kerja di tempat saya juga, dia yang paling rajin, paling banyak kerjaan, tapi gajinya paling kecil. Dia tidak pernah protes, diam saja. Tapi saya lihat matanya itu lho... matanya sudah tidak ada cahayanya lagi. Sudah mati rasa kelihatannya."