Pundak Si Sulung

M Helmi Akhdan
Chapter #5

Tugas Baru, Beban Lama

Waktu terus berjalan, bergulir tak terasa, membawa Raina masuk ke dalam rutinitas yang semakin berat dan melelahkan. Dua bulan sudah berlalu sejak ia mulai bekerja, dan kondisi ekonomi keluarga belum juga membaik secara signifikan. Gajinya yang pas-pasan itu seolah menguap begitu saja, habis untuk kebutuhan pokok rumah, tagihan listrik, dan keperluan sekolah Dika serta Sari. Uang tidak pernah cukup, dan hal itu selalu menjadi bahan keluhan utama Bu Laksmi setiap hari.

Pagi itu, saat Raina sedang bersiap berangkat kerja, Dika menghampirinya dengan wajah ragu-ragu. Anak laki-laki itu kini sudah masuk jenjang sekolah menengah atas, dan mulai menyadari kebutuhan-kebutuhan yang dulunya tidak pernah ia pikirkan saat ayahnya masih ada.

"Kak Raina..." panggil Dika pelan, menundukkan pandangannya ke lantai."Ada apa, Dik? Ada yang ketinggalan buku?" tanya Raina sambil mengikat tali sepatunya dengan cepat.

"Ehm... tadi Bapak Guru bilang, bulan ini ada iuran kegiatan ekstrakurikuler sama uang buku paket tambahan. Katanya harus dikumpulkan besok. Jumlahnya... lima puluh ribu, Kak," ucap Dika pelan, takut-takut melihat reaksi kakaknya.

Tangan Raina berhenti bergerak. Lima puluh ribu. Bagi orang lain mungkin angka itu kecil, tapi baginya itu adalah uang untuk membeli beras setengah karung, atau uang makan satu minggu. Ia menghela napas panjang, mencoba tersenyum tenang meski hatinya berdebar kencang.

"Baiklah, nanti sore Kakak siapkan ya. Kamu jangan khawatir, sekolah saja yang rajin," jawab Raina berusaha meyakinkan adiknya.

Baru saja Dika masuk kembali ke kamar, Sari datang menghampiri dengan wajah sedih, mengangkat kakinya yang memakai sepatu tua yang sudah jebol di bagian ujungnya. "Kak... sepatu Sari sudah tidak muat lagi. Jari Sari sakit kalau dipakai jalan. Boleh beli yang baru ya, Kak? Teman-teman di sekolah sudah banyak yang pakai sepatu baru."

Raina menatap sepatu lusuh itu, lalu menatap wajah adik bungsunya yang polos. Ia merasa ingin sekali memeluk Sari dan menangis bersamanya. Ia ingin sekali memberikan apa saja yang diminta adik-adiknya, agar mereka tidak merasa malu atau kekurangan apa pun dibandingkan teman-temannya. Tapi kenyataannya, dompetnya kosong.

"Nanti kita beli ya, Sayang. Nanti kalau Kakak ada uang lebih, kita cari yang bagus dan awet ya," jawab Raina sambil mengelus kepala Sari lembut.

Belum sempat Raina melangkah keluar pintu, suara ibunya terdengar dari arah dapur, lantang dan penuh nada keluhan. "Dika butuh uang? Sari butuh sepatu? Ibu dengar semuanya lho, Raina. Kamu ini gimana sih ngaturnya? Uang yang kamu kasih kemarin sudah habis semua, belum cukup lagi buat beli obat pusing Ibu. Kepala Ibu sakit terus mikirin uang. Kamu kerja kok gajinya segitu-segitu saja. Kapan kita bisa enak hidupnya? Kapan Ibu bisa dandan sedikit? Lihat baju Ibu sudah lusuh begini, malu kalau ada tamu datang."

Lihat selengkapnya