Sepulang dari mencari puntung rokok, ada keributan di kamar Idzar yang menempati kamar di ujung pojok kanan terdalam. Ric memandang sekilas depan kamar Idzar lalu masuk ke kamarnya. Tidak peduli dengan keributan itu. Lagi pula itu bukan urusannya. Kenapa mesti ikut campur.
Ric segera membaringkan tubuh. Ada perasaan nyaman telah banyak melakukan aktivitas hari ini. Otak dan pikirannya terasa segar bebas dari cengkeraman miras atau narkoba.
Tiba-tiba pintu kamar Ric diketuk, tepatnya digedor. Ric sedikit gusar, karena kedamaiannya terusik.
“Ada apa?” sambut Ric setelah pintu terbuka. Wajahnya sangat jelas berkerut-kerut tidak senang.
“Langsung geledah saja!” cetus Riyan.
Dion merangsek masuk diikuti yang lain. Ada tiga orang masuk ke kamarnya lalu menggeledah lemari yang hanya berisi tiga setelan baju, mengacak-acak seenaknya. Meneliti setiap laci. Mengintip bawah ranjang.
“Uangnya kamu sembunyikan di mana?” tuntut Idzar. “Coba kamu keluarkan isi saku bajumu!”
Ric yang tidak tahu duduk masalahnya hanya mengikuti apa yang diperintahkan. Dalam hati tersenyum geli, meski kalian sampai menelanjanginya uang yang mereka cari tidak akan ada di tubuhnya. Bahkan satu sen pun uang tidak dia miliki.
“Kalian mau aku melepas bajuku juga?” tantang Ric.
“Ya, buka bajumu!” Idzar merasa tidak puas dengan hasil yang keluar dari kantor Ric yang hanya ada puntung rokok dan korek api.
Idzar pikir, mungkin Ric menyembunyikan uangnya yang hilang dilipatan celana. Setelah pencarian mereka pada semua celah tempat tidak menemukan apa pun. Bahkan termasuk membuka lemari Ayom, bawah ranjangnya. Tak lupa menyingkap bawah karpet yang menghampar di bawah meja lesehan.
Ric mendesah kesal. Ujarannya yang asal bicara mendapat tanggapan serius. Meski demikian tangan Ric telah bergerak menggulung kaosnya dari arah perut. Ketika kaos warna hitam tersingkap sampai leher, tato tubuh ular terpampang sempurna.
"Cukup, itu tidak usah kamu lakukan," cegah Riyan sebelum Ric melepas kaosnya hingga bertelanjang dada. "Yang penting katakan saja kamu sembunyikan di mana uang Idzar."
“Uangnya sudah kamu pakai, hah?” Idzar ikut mencecar.
“Uang apa?” tanya Ric tetap berusaha tenang.
“Kamu mencuri uang Idzar, kan?” Riyan langsung menuduh terang-terangan.
“Lalu kalian temukan uang itu padaku?” ujar Ric masih santai, namun matanya menancap tajam pada anak-anak yang merangsek ke kamarnya.
“Pasti sudah kamu pakai, buat beli sesuatu. Narkoba, barangkali.” Riyan masih saja menuduh Ric.
“Jadi apa dari saku bajuku ada narkoba yang kamu maksud itu? Apakah aku juga terlihat seperti orang yang hilang kesadaran saat ini?” elak Ric yang kemudian berpikir, mereka ini hanya sekumpulan orang bodoh yang suka asal tuduh tanpa bukti dan saksi.
“Awas ya, akan aku laporkan ini pada Pak Abu. Dan setelahnya kamu bisa diusir dari sini. Yuk, ah!” ajak Idzar keluar dari kamar Ric dan Ayom.
“Ngaku saja, Bro.” Dion ikut berkoar sebelum keluar menepuk bahu Ric yang segera menepisnya.
Saat bersamaan Ayom pulang. Dia lalu bertanya pada anak asrama yang baru keluar dari kamarnya.
“Hati-hati, teman sekamarmu itu maling,” bisik Dion yang terus melangkah dan menghilang dari pandangan Ric.
Ayom memandang pada Ric yang tersenyum sinis. “Uang siapa yang hilang?” tanyanya pada Ric sembari masuk lalu meletakkan tasnya ke sisi meja.