Semula Ric tidak ingin pulang. Dia ingin tetap berada di alun-alun atau menginap di masjid terdekat. Ada masa dirinya rindu tidur di bawah langit langsung. Selain itu badannya terlalu lelah untuk berjalan kembali ke asrama. Meski hatinya menanggung senang bukan kepalang. Dari hasil mengamen di depan mall yang megah di apit dua air terjun yang menari-nari, Ric mendapat uang sebanyak dua puluh ribu. Jumlah yang banyak menurut Ric, daripada tidak punya uang sama sekali.
Namun demikian, di asrama Ric memiliki satu hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Dia harus membersihkan namanya dari cap pencuri. Mungkin satu minggu lagi, sebelum dia kemudian meninggalkan masjid Fatima menjelang kehidupan yang baru. Terjun ke jalanan lagi menjadi pengamen atau melakukan apa pun yang bisa menghasilkan uang.
Ric tidak tahu sekarang sudah jam berapa. Yang pasti, mall yang berdiri di depan mata telah menutup dirinya. Orang-orang pun menyusut perlahan. Ric ikut undur diri berteman kegalauan beberapa saat sebelum akhirnya melangkah menuju ke masjid Fatima.
Pukul setengah sebelas Ric memasuki gerbang area masjid. Mas Tito satpam yang hanya bertugas di malam hari menyapa Ric.
“Dapat uang banyak nih pasti,” goda Mas Tito pada Ric yang langsung menurunkan perkusi dari punggung.
“Lumayan, bisa buat beli rokok,” tanggap Ric sambil merogoh saku celana dan menyodorkan rokok pada Mas Tito.
“Beneran?”
“Ambil satu maksudnya,”
Mas Tito tertawa. “Iya tahu,” derunya lalu mengambil rokok merek termurah dari tangan Ric. “Ngomong-ngomong ngamen di mana tadi?”
“Alun-alun,” sambut Ric yang telah mengantongi rokoknya dan siap mengangkat perkusinya. “Yuk, Mas. Ngantuk,” pamit Ric lalu melangkah dengan gontai.
“Ya, tidur yang nyenyak!” seru Mas Tito.
Setelah meletakkan perkusinya di tempat parkir, Ric langsung menuju asrama putra yang letaknya membentuk huruf L tidak menyatu. Ada jeda gudang peralatan berkebun, dan gudang peralatan yang sudah tidak terpakai, yang beberapa hari yang lalu dilakukan pembersihan.
Suasana asrama sudah lengang. Bahkan di lantai dua, Sena atau Dion yang suka duduk-duduk di sana juga tidak ada. Ric membuka pintu pelan seperti biasa. Dia tidak mau mengganggu Ayom yang beberapa jam lagi harus bangun melakukan rutinitasnya. Ric mengendap-endap mengambil baju kemudian keluar lagi untuk mandi.
Air yang dingin segera mengguyur tubuh penat Ric. Cukup menyegarkan sebagai bekal tidur nyenyak nanti.
Tiba di kamar, Ric segera menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Meski lelah, senyum tipis mengiringi mata yang terpejam. Benar, seharusnya dia tetap berada di jalanan sana agar bisa tidur nyenyak tanpa mengkhawatirkan banyak hal.
Ayat-ayat suci Al Qur’an menghantarkan jiwa Ric kembali ke tubuhnya. Tenang ini melenakan. Sempat terbersit, bilakah dia nanti keluar dari sini hatinya akan tetap terisi. Meski di jalanan begitu menyenangkan. Tetapi pada sudut-sudutnya terdapat ruang yang hampa.