PUNKER

Xie Nur
Chapter #21

Menguntit

Ric pikir dirinya sudah berprasangka buruk pada Zakaria. Lihat saja, pemuda itu telah membelok ke salah satu gedung dengan plang Jurusan Kedokteran Gigi dengan langkah yang ringan. Ric juga baru tahu kalau Zakaria ternyata mengambil jurusan itu. Berbeda dengan Adinata yang mengambil Jurusan Kedokteran saja. Mungkin mengacu pada dokter umum.

Pantas saja, Zakaria tampak enjoy saat pergi ke kampus yang kata Adinata, kampusnya berada di Mersi, dekat Rumah Sakit Margono. Lumayan jauh, pakai kendaraan saja menghabiskan waktu kurang lebih delapan belas menit. Ric sempat berpikir bagaimana Zakaria mencapai tempat itu, menggunakan angkot yang sudah jarangkah. Dengan resiko datang terlambat. Atau menggunakan ojek online. Betapa borosnya.

Zakaria terus melangkah ke gedung megah tanpa menoleh kiri-kanan. Dia masuk ke lobi yang dijaga oleh satu orang perempuan berkerudung. Zakaria terus melangkah melewati lobi ke arah kiri, sampailah dia di ruang administrasi. Ric cukup bersyukur aksi penguntitannya di dalam gedung bisa tersamarkan karena banyak mahasiswa yang berlalu lalang.

Ric lalu duduk pada ruang tunggu yang tersedia dan pura-pura membaca brosur yang dia comot dari meja lobi untuk menutupi mukanya. Ric semula ingin langsung pulang, karena sudah memastikan Zakaria berkuliah di tempat itu. Akan tetapi Ric menjadi penasaran apa yang akan Zakaria lakukan setelah ini. Masuk ruang kelaskah untuk menerima kuliah atau sekedar kongkow dengan teman yang lain.

Keluar dari ruang administrasi Zakaria menaiki tangga yang berada di belakang lobi. Sangat kebetulan ada segerombol mahasiswa yang sedang naik setelah Zakaria. Ric segera berlari mengikuti laju satu orang mahasiswa perempuan dan dua laki-laki. Tambah dirinya yang tepat berjalan di belakang mereka, akan tampak gadis itu dikerubuti oleh tiga laki-laki tampan.

Tiga mahasiswa yang diikuti Ric membelok ke kanan. Posisi Ric menjadi terbuka. Kalau Zakaria itu musuh yang membawa pistol, kepala Ric akan menjadi sasaran empuk peluru yang diluncurkan.

Ric segera memundurkan langkah setelah berhasil memindai ruangan yang dimasuki oleh Zakaria. Plang bertuliskan perpustakaan, entah mengapa membuat Ric bosan duluan.

“Ah, tidak asyik,” desis Ric lalu balik badan menuruni tangga dan melangkah pulang.

Tetapi Ric berubah pikiran. Dia tidak benar-benar kembali ke asrama Fatima. Ric memutuskan duduk-duduk di pinggir jalan masuk kampus sambil melihat lalu lalang orang-orang yang kebanyakan mahasiswa.

“Mas, jangan duduk di situ!” Tiba-tiba satpam kampus menegur Ric yang posisinya memang berbahaya kalau ada mobil atau motor masuk.

“Siap, Pak!” Ric yang sadar diri langsung berdiri dan menghormat pada satpam bertubuh ceking seperti kurang makan.

Ric kemudian berjalan pulang. Sampai di kompleks masjid, Ric menabuh perkusinya sebentar. Saat makan siang, Zakaria terlihat masuk ke area asrama.

“Nah, ini dia calon dokter gigi kita,” kata Ric menyambut Zakaria yang memandangnya dengan ekspresi terkejut. Adinata yang juga sedang menikmati hidangan makan siang juga terlihat tidak menyangka. “Kenapa tidak bilang kalau ambil jurusan kedokteran gigi.”

“Oh, ternyata kamu anak gigi?” Adinata memastikan. “Pantas tidak pernah melihatmu.”

“Ya, seperti itulah,” tanggap Zakaria dengan mata memicing tidak suka. “Kamu tahu dari mana kalau aku kuliah di kedokteran gigi?”

“Tadi sewaktu aku keluar jalan-jalan, aku lihat kamu masuk ke kampus kedokteran gigi,” ucap Ric mengatakan antara kebenaran dan juga kebohongan. “Boleh aku minta jadwal kuliahmu?” tanya Ric kemudian.

“Buat apa?” Zakaria bereaksi tidak senang. Terlihat dari kerutan di keningnya.

Lihat selengkapnya