PUNKER

Xie Nur
Chapter #22

Tertangkap Basah

Imbas dari mengamen di malam hari, membuat Ric tidak ingin salat Subuh. Dia hanya ingin meneruskan mimpi yang semalam belum usai, atau baru mulai sebentar. Akan tetapi ketika teringat bahwa dia harus melakukan sesuatu terkait kasus pencurian yang terjadi di asrama dan tudingan mengarah padanya, mau tak mau Ric harus lekas bergerak demi membersihkan namanya yang mungkin tidak bisa dibilang jernih.

Sama seperti hari sebelumnya setelah salat Subuh, Ric langsung membersihkan masjid. Pukul setengah tujuh dia sudah mandi dan siap sarapan sambil menunggu Zakaria keluar untuk berangkat kuliah. Setahu Ric, selama pengamatan sekilas lalu, Zakaria setiap pagi berangkat ke kampusnya. Seolah jadwal kuliahnya pagi hari selalu. Tidak seperti penghuni asrama lain yang terkadang ada jeda masuk siang, sore, atau jam tanggung pukul sepuluh.

Pukul tujuh kurang lima belas menit Zakaria keluar dari kamarnya. Mengambil sarapan secara cepat, dan langsung memelesat pergi dengan berjalan kaki. Pagi itu pun Zakaria menyapa Ric sambil lalu. Tanpa percakapan yang intens. Pemuda itu juga menyuap makanan seperti tanpa menguyah. Setelah selesai makan, menyeret kursi hingga menimbulkan bunyi berisik.

“Aku berangkat,” pamit Zakaria pada Ric yang masih tampak asyik menikmati gorengan pengiring sarapan pagi berupa bakwan.

“Hati-hati, Bro!” tanggap Ric lalu menggigit cabai setelah bakwan masuk ke mulut.

“Pagi sekali?” tanya Aziz yang tak pernah melewatkan makan pagi satu kali pun. Dia selalu datang awal sebagaimana Ric. Bedanya Ric datang awal ke meja makan, karena memang ada sesuatu yang sedang dia kerjakan, semacam pengintaian atau pengamatan. Kalau Aziz tentu karena tuntutan perut.

Lambaian tangan dari Zakaria menjawab pertanyaan dari Aziz.

“Kayak mau kencan semangat banget gitu. Padahal dia mau kuliah, kan?” ujar Aziz yang sudah menambah porsi makan. Mentang-mentang lauknya ayam.

Ric menanggapi dengan senyum asimetris seperti biasa. “Aku juga mau cabut dulu,” ucap Ric sambil membawa sisa bakwan yang belum masuk ke mulut.

“Mau kemana?” tanya Aziz.

“Tour kampus,” jawab Ric asal, lalu menyuap bakwan sekali lahap.

Aziz cuma melongo, kemudian masa bodo. Makanan di piringnya lebih memiliki makna dari orang-orang yang telah pergi meninggalkannya sendiri di meja makan. Malah kebetulan, sehingga dia bisa leluasa mengambil tambahan lauk tanpa sungkan.

Di sisi lain, Ric sangat mengatur jaraknya. Tubuh jangkungnya lumayan membantu pandangan mata ke depan. Tidak menjadi masalah bila ada pejalan kaki di depannya. Malah menguntungkan, tinggal membungkukkan badan kalau sampai Zakaria menoleh ke belakang.

Kampus Kedokteran Gigi telah menyapa. Zakaria kali ini langsung menuju perpustakaan. Ric mengumpat. Berharap pemuda itu tidak menghabiskan waktu lama di tempat itu. Tetapi harapannya tidak terkabul. Ric harus bersabar menunggu di salah satu sudut selasar sambil sesekali mengintip ke arah pintu perpustakaan.

Hampir saja Ric tertidur dekat tempat sampah kalau suara cekikikan tidak terdengar. Beberapa mahasiswi yang lewat memperhatikannya yang dalam posisi memeluk tempat sampah. Ric segera mengelap air liurnya yang ikut menempel di tempat sampah.

Begitu menyadari satu hal, Ric segera bangkit mengabaikan tatapan orang yang melihatnya dengan aneh. Dia lalu mengendap-endap menuju ruang perpustakaan. Mengintip ke dalam masih adakah Zakaria di sana.

Ric bernapas lega. Buruannya masih duduk manis pada meja yang ada di pojokan dengan posisi membelakanginya. Secara tidak terduga Zakaria berdiri. Dia lalu melangkah menuju rak buku meletakkan buku yang tadi dibacanya. Kakinya kini telah mengarah keluar. Melihat situasi itu, Ric sempat kebingungan hendak menghindar ke mana. Terlambat. Zakaria telah melihatnya.

“Ric?” panggil Zakaria antara terkejut juga tidak menyangka. “Sedang apa kamu di sini?”

Ric ragu hendak balik badan. Terbersit dalam pikiran Ric pura-pura tidak tahu dengan terus berjalan hingga pada satu momen yang tepat dia nanti berlari. Akan tetapi Zakaria rupanya bergerak lebih cepat dalam menangkap basah Ric yang berada di kampus kedokteran gigi. Sebelum sempat berlari, Zakaria telah berdiri menghadang langkah Ric di depan.

Lihat selengkapnya