“Lengkapnya?”
“Zakaria Hadi.”
“Zakaria Hadi,” ulang Agung meneliti nama-nama yang tertera di komputer. “Kamu benar mengambil jurusan kedokteran gigi?”
Tidak ada sahutan dari Zakaria. Lututnya terlihat jungkat-jungkit pada bagian tumit. Sementara matanya menatap monitor yang menampakkan juntaian kabel saling silang.
“Boleh lihat KTP-nya?” Agung berganti menelusur Zakaria melalui KTP. Dia tampak penasaran kenapa nama Zakaria Hadi tidak ada di daftar mahasiswa.
“Butuh KTP saya juga, Pak?” Ric malah ikut menyodorkan KTP-nya.
“Oh ya, boleh.” Agung mengambil KTP Ric lalu memotret dengan ponselnya. “KTP ilang juga?” tanya Agung pada Zakaria yang masih mengaduk-aduk tasnya.
Setengah ragu-ragu sembari menghembus napas pelan, Zakaria menyerahkan KTP-nya. Dia terlihat seperti terpidana mati yang bersiap menghadapi regu tembak.
“Hurufnya tidak ada yang janggal. Tapi kok enggak ada?” Agung lalu memandang Zakaria lagi dengan tatapan menghakimi. “Kamu kuliah di mana sebenarnya? Kenapa berkeliaran di kampus Kedokteran Gigi?”
“Fakultas Ilmu Kesehatan,” ucap Zakaria akhirnya.
“Terus ngapain kalian di sini dan membuat keributan.”
“Dia mengikuti saya, Pak. Saya takut dan sengaja masuk ke kampus yang bukan kampus saya.
Ric mendelik ke arah Zakaria. “Apa kamu bilang?”
“Kamu mau berbuat apa?” tanya Agung pada Ric yang memang penampilannya seperti berandal. Selain tato yang mengintip-intip manja. Telinga Ric juga ada bekas tindik selebar kancing baju.
Ric mengumpat dalam hati. Wajahnya telah memaling ke arah lain sementara tangan kanannya menggenggam kuat. Coba saat itu tidak ada orang bernama Agung itu. Tinju tangannya pasti sudah melayang ke muka Zakaria.
Sebenarnya Ric bukan tipe orang yang suka mengumbar emosi. Tetapi kalau sudah ada yang mengusik hatinya, terlebih ada tuduhan yang tidak benar tentangnya. Dia sama sekali tidak bisa tinggal diam. Pokoknya seperti slogan preman pada umumnya; senggol bacok. Itu menjadi prinsip Ric.
“Eh, maaf, sebenarnya kami sedang bertengkar.” Secara tidak terduga Zakaria mengatakan hal yang sangat bertolak belakang dari sebelumnya. “Kami tinggal satu asrama, tapi kami sedang ada bertikaian.”
Agung menggaruk kepalanya. “Duh, kalian berdua bikin saya repot saja. Sudah sana keluar!” usir Agung terlihat enggan menghadapi Ric dan Zakaria.
Ric kali ini melongo tidak percaya. Pertama karena perkataan Zakaria. Kedua karena Agung malah mengusir mereka.
“Makasih, Pak,” ucap Zakaria lalu beranjak dari duduk. Saat melihat Ric masih tidak mau bergerak, tangan Zakaria menariknya. “Ayo!”
Gelagapan Ric mengikuti arahan dari Zakaria.
“Lain kali kalau saya melihat kalian berkeliaran di sekitar kampus ini dan membuat keributan lagi. Kalian akan saya laporkan ke polisi,” Ancam Agung yang telah berdiri dengan berkacak pinggang.