“Apa ini?” Ric bingung saat menerima sejinjing tas kertas dari Zakaria. “HP?” lanjutnya setelah mengintip ke dalam tas kertas berwarna cokelat muda. “Buat aku?” Mata Ric memicing curiga.
“Iya, untukmu. Tapi itu HP dengan spek rendah, sih,” ucap Zakaria masih berdiri di ambang pintu kamar Ric pada suatu pagi. “Dan bukan HP baru.”
“Untuk apa?” tanya Ric dengan ekspresi curiga.
“Siapa tahu kamu ingin mendapatkan uang dari HP itu. Dan tentu saja sebagai hasil kesepakatan kita siang kemarin.”
“Siapa bilang aku sepakat? Kamu menyuap aku?” Tangan Ric mengulurkan tas kertas ke arah Zakaria. Lebih tepatnya menghempaskan tas itu ke dada Zakaria.
Zakaria berdeham, sembari memegangi tas kertas agar tidak jatuh. “Boleh aku masuk?”
Sejenak Ric ragu. “Ah ya, silakan.” Akhirnya dia membiarkan Zakaria memijak lantai kamarnya.
“Antara iya dan tidak.” Zakaria lalu menyahuti pertanyaan Ric tentang menyuap itu. “Ayom sudah berangkat kuliah?” tanya Zakaria yang tanpa dipersilakan mengambil duduk di sebelah meja, membelakangi lemari pakaian. Dia juga meletakkan tas kertas di meja Ric.
“Iya, katanya ada tugas yang susah dikerjakan, dia mau bertanya pada temannya dulu,” jawab Ric yang lalu duduk di ujung ranjangnya.
“Ngomong-ngomong tumben kamu enggak sarapan awal, biasanya sudah stanby di bawah,” ucap Zakaria masih ingin berbasa-basi. Dia menanyakan perihal kebiasaan Ric beberapa hari terakhir. Tadi Zakaria memang bermaksud memberikan ponsel itu di meja makan saat Ric di sana. Tetapi orang yang ditunggunya tidak muncul juga. Terpaksa Zakaria menyusul naik ke lantai dua.
“Penyelidikan alibi udah selesai,” kata Ric yang akhirnya mendapatkan tiga nama penghuni asrama yang alibinya lemah. Zakaria yang semula masuk daftar tersebut, telah Ric coret. Tinggal menyisakan empat nama; Aziz, Tri, Ferry dan Dion. “Kamu sendiri kenapa belum berangkat ke kampus?” Ric balik bertanya.
“Mau kasih itu dulu,” kata Zakaria menunjuk tas berisi ponsel yang tergeletak di meja sebelahnya. “Kamu yakin enggak mau?” Zakaria lalu meraih dan mengeluarkan kotak ponsel dari dalam tas. Berusaha menyodorkan kembali pada Ric.
“Aku belum butuh itu,” sahut Ric melirik kotak berwarna biru muda dengan gambar ponsel yang setipis silet.
“Ayolah,” bujuk Zakaria. “Atau anggap saja ini sebagai kompensasi seperti yang aku janjikan.”
Ric terlihat menimbang.
“Halalan toyiban,” ringis Zakaria yang masih membiarkan tangannya menggantung di udara dan kini dengan ponsel yang sudah keluar dari kotaknya.
Mau tak mau Ric mengambil ponsel itu dari tangan Zakaria. Bukan karena memang ingin benda tersebut. Tetapi dia hanya ingin menghargai pemberian orang lain.
“Kamu harus segera mengaktifkannya,” saran Zakaria sudah seperti sales yang sedang menawarkan dagangannya. “Nanti aku beritahu aplikasi penghasil uang.”
“Bukankah, untuk mengaktifkan HP ini harus punya kuota data?” ujar Ric sembari menimang ponsel yang sudah ada di tangannya. “Aku tidak mau kebutuhanku sendiri di luar rokok bertambah.”
“Itu sudah kuisi dengan kuota data. Kamu tinggal pakai. Dan lagi menurutku kamu harus bekerja yang benar,” balas Zakaria. “Kamu bekerja di masjid secara sukarela, kan?”
Ric mengangguk. “Tidak masalah buatku, yang penting aku bisa makan, dan tidur dengan nyaman. Meski terkadang aku kangen turun ke jalan, hidup dalam ketidakpastian itu menurutku lebih terasa menantang dan menyenangkan.” Ric mengutas senyum mengawang.
“Apa asyiknya hidup tanpa kepastian, hah?” ucap Zakaria sambil menaikkan dua lutut depan dada lalu memeluknya.
“Kau tidak perlu memikirkan tentang status, derajad dan uang. Cukup hidup saja untuk makan.”