“Dion,” jawab Nai. “Anak itu memang pelupa.” Nai menambahi informasi. “Sering kalau dia ke perpustakaan HP-nya ketinggalan. Kunci kamar juga begitu. Yang paling parah dia kadang lupa bawa sandal atau tidak saat ke perpustakaan. Karena takut salah mengambil sandal orang dia pulang ke asrama tanpa alas kaki.” Senyum geli tergambar dari bibirnya yang ganjil.
Ric cukup takjub Nai bisa bercerita banyak seolah mereka itu teman. Efek baiknya keterangan dari Nai sangat cukup untuk mendeteksi seorang Dion. Bisa jadi ada orang yang memanfaatkan sifat pelupanya itu demi keuntungan. Tetapi siapa? Ric merasa buntu.
“Mbak yakin, enggak ada penghuni asrama lain yang sering pinjam kunci cadangan?”
“Yakin,” sahut Nai, meski dari raut wajahnya tampak mencoba menggelar ingatannya. “Eh, ada satu lagi. Maaf, habisnya Dion itu yang terlalu sering. Jadi dalam otak saya yang terlintas hanya anak itu.”
“Siapa?”
“Fatih,”
“Kuncinya hilang?”
“Katanya begitu.”
“Mbak Nai masih ingat kejadian mereka berdua pinjam kunci cadangan?” tanya Ric makin ingin menelisik tentang perpinjaman kunci yang mungkin bisa menjadi petunjuk pencuri uang di asrama putra.
“Kira-kira dua minggu yang lalu. Saat Idzar kehilangan uangnya.”
“Sip,” Ric langsung mengacungkan jempolnya. “Makasih Mbak, informasinya.”
“Memangnya ada apa, sih, kamu tanya hal yang aneh-aneh seperti tadi?” Nai memicingkan mata.
“Mbak pasti tahu, kalau saya menjadi tersangka dari pencurian yang terjadi di asrama putra?” ucap Ric dengan akhir kalimat yang menggantung seolah masih ada lanjutan, setelah menunggu reaksi dari lawan bicara.
Nai mengangguk. “Terus?”
“Saya ingin membersihkan nama saya. Karena itu saya harus menemukan pencuri yang sebenarnya.”
“Bisa jadi itu orang luar, kan?”
“Kalau orang luar tanpa merusak pintu bagaimana dia bisa masuk?” Ric mengungkapkan satu kemungkinan ada keterkaitan dengan kunci cadangan.
“Yah, mungkin saat itu kunci mereka tertinggal di masjid dan ada menemukan. Lalu orang itu mungkin tahu tentang asrama putra karena di kunci memang ada gantungan bertuliskan pelat Asrama Putra. Ada nomor pintu juga.”
Ric lalu merogoh saku celana memperhatikan gantungan kunci berbentuk kubah masjid dengan tulisan dalam hologram. Sekilas memang tidak akan terlihat tulisan itu. Tetapi setelah mengamati dengan saksama memang ada tulisan Asrama Putra menempel pada sisi kubah atas dan di tengahnya terdapat angka. Pada gantungan kunci Ric tertera angka delapan.
“Tapi, kalau ada orang asing berkeliaran pasti anak-anak akan tahu. Waktu itu saja aku kena bogem mentah dari Sena,” ujar Ric mengungkapkan fakta berkenaan dengan ruang lingkup masjid dan asrama termasuk penghuninya.
“Itu tadi pendapatku saja. Kalau memang ada orang dalam pelakunya semoga segera ketemu. Tidakkah di asrama putra jadi sedikit tegang suasananya?” ulas Nai.
“Mereka menjadi lebih waspada, terutama terhadapku,” tanggap Ric. “Ada efek baiknya, si pencuri berhenti beraksi. Mungkin sedang menunggu waktu lena kembali.”