Tiba di area samping rumah Pak Abu, yang membentuk selasar hingga ke dapur, Ric mencomot satu buah topi rimba yang tergantung pada tembok sisi kanan sebelum sekat yang tercipta berubah menjadi jendela kaca.
“Hei, jangan asal ambil!” tegur Nai yang berjalan di belakang Ric. “Kembalikan!”
“Aku mau pinjam sebentar,” ucap Ric tanpa menoleh pada Nai yang masih menguntitnya.
Tadi Nai sempat kebingungan sewaktu Ric dengan semena-mena mengajaknya melakukan pengintaian. Antara penasaran juga ada tanggung jawab menunggu perpustakaan. Akhirnya, berhubung di dalam masih ada anak yang masih betah membaca di sana. Nai menitip perpustakaan barang sebentar pada siapa lagi kalau bukan Ferry.
“Oke,” sahut Ferry acuh tak acuh meski dia sedikit bingung kenapa Nai tampak mencemaskan sesuatu.
Setelah mendapat persetujuan dari Ferry, Nai segera berlari kecil menyusul Ric dan mendapati anak itu mencuri topi Pak Abu.
“Mau buat apa?” tanya Nai.
“Ikut saja, nanti juga tahu.”
Keduanya telah keluar melalui pintu dapur. Bu Wariska sempat bertanya pada Nai ada apa. Tetapi Nai mengangkat bahu. Lalu mengatakan, semua akan dia ceritakan nanti. Yang penting Bu Wariska bersedia menemaninya saat ini.
Sementara itu Ric sudah berdiri di depan tembok yang dirambati tanaman markisa. “Bisa tolong ambilkan pisau?” ucapnya pada Nai yang masih setia mengikuti.
“Buat apa?” Nai sudah berkerut-kerut pasang wajah bertahan dari segala kemungkinan buruk yang akan dilakukan oleh anak bertato di depannya.
Ric menoleh pada Nai yang bergeming demikian juga dengan Bu Wariska. Tanpa berkata-kata Ric malah sudah berlari ke dapur. Saat keluar kembali dia telah menghunus pisau.
“Nak Ric, itu berbahaya,” Bu Wariska tampak menelan ludah.
Sementara Nai, memegangi tangan Bu Wariska setengah mundur mengambil ancang-ancang bersiap melarikan diri. Tetapi Ric terus saja maju dengan sorot mata dengan aura hitam. Selanjutnya tanpa dapat dicegah, Ric sudah mengarahkan pisau itu ke tanaman markisa yang tidak berdaya mendapat serangan membabi buta dari Ric.
Melihat itu, Nai dan Bu Wariska saling pandang tidak mengerti. Wajah pias keduanya telah menyemburat kelegaan meski hanya setengah.
Di lain pihak, senyum seringai Ric kini jelas terarah pada Nai. “Tolong buat topi ini tertutup daun markisa ini.” Tangan Ric mengulur pada Nai yang masih sedikit ketakutan.
Dengan ragu Nai menerima topi yang semula ada di kepala Ric dan kini terulur padanya. Begitupun dengan sulur-sulur tanaman markisa. Ric sendiri membabat beberapa helai tanaman markisa yang ada buahnya lalu dia kalungkan di lehernya.
“Mau ke mana?” tanya Nai saat langkah Ric menuju arah yang tidak semestinya.
“Asrama putri.”