PUNKER

Xie Nur
Chapter #27

Pengelakan

“Lepaskan, Ric!” Suara Pak Abu terdengar lagi. Kali ini lebih tertuju pada Ric.

Dengan enggan Ric melepaskan pegangan tangannya di kaki pemuda yang jatuh bersamanya. Pemuda itu segera merangkak dan berdiri. Tangannya mengibas-kibas kotoran yang menempel di tubuhnya.

Saat bersamaan Mang Anwar tergopoh-gopoh datang dengan sapu kebun yang masih berada di tangan. Dia lalu merapat pada Bu Wariska menanyakan apa yang terjadi. Dan hanya mendapat gelengan kepala darinya. Sementara itu Nai yang berdiri dua langkah di sisi sebelah kiri Pak Abu tadi sempat merasa ngeri melihat Ric mendapat tendangan secara brutal dari Idzar.

“Lihat Pak, dulu dengan Sena. Sekarang dia mau menghajar saya,” kata Idzar sambil menuding-nuding Ric. “Bahkan, dia mau merampok saya. Meminta paksa tas saya.”

Pak Abu masih berdiri dengan tenang. Dia mendengarkan keterangan dari Idzar dengan mulut membias senyum seperti biasa.

“Dia itu pencurinya, Pak!” Ric ganti menuding Idzar. Dia sama sekali melupakan segala nyeri di kepala.

“Mana buktinya?” elak Idzar.

“Berikan tas rangselmu!” Ric meminta tas rangsel Idzar lagi.

“Mau lihat apa?” sergah Idzar. “Isinya cuma buku!”

Pak Abu maju, “Coba lihat tasmu Zar.” Tangan Pak Abu telah terulur meminta.

“Ada apa ini?” Idzar masih tidak mau memberikan tasnya.

“Saya hanya akan membuktikan bahwa kata-kata Ric benar. Kalau ternyata salah, Ric harus minta maaf padamu,” dengan kode tangan agar Idzar segera mau menyerahkan tasnya.

Idzar menghembuskan napas kasar. Dia lalu mengulurkan tasnya pada Pak Abu. Setelah tas berpindah tangan, Pak Abu segera membuka tas Idzar dan keningnya menjadi berkerut.

“Di tas itu, pasti ada HP-ku atau HP Ayom,” ucap Ric memberi informasi.

“Ini ponselmu, Ric?” tanya Pak Abu yang sudah memperlihatkan kotak ponsel dengan warna dominan hitam.

“Benar,” sahut Ric.

“Darimana kamu tahu? Yang bisa punya HP baru bukan cuma kamu,” elak Idzar.

Belum lagi Ric menyahuti, Idzar dengan cepat melanjutkan kata-katanya.

“Atau jangan-jangan kamu hanya ingin mengaku-aku sebagai pemilik HP itu. Memangnya kamu punya uang untuk membeli HP. Oh ya, tentu saja kamu memakai uang hasil mencuri waktu itu,” cerocos Idzar seolah ingin mengalihkan perhatian orang-orang yang mendekat. Dengan menjadikan dirinya sebagai korban bukan tersangka.

“Zakaria yang memberiku itu,” kata Ric. “Kalau aku nyalakan itu, aku bisa membuktikan kalau itu HP-ku. Ada nomor Zakaria di sana. Satu-satunya kontak yang dipunyai HP itu.”

Lihat selengkapnya