Tiba di rumah Pak Abu, suasana lengang terjadi. Ric, Idzar dan Nai tampak menunggu suara Pak Abu memenuhi ruangan. Sebuah salam segera mengisi titik diam. Dion berdiri canggung di ambang pintu manakala semua mata menatapnya seusai salam. Dia merasa telah datang pada satu kesempatan yang salah.
“Eh, anu...” Dion melihat pada Ric.
“Dia mungkin bisa memberi kesaksian, Pak,” kata Ric.
“Masuklah, Yon!” perintah Pak Abu.
Dengan langkah ragu-ragu Dion menuju tempat duduk sebelah Idzar. Pak Abu merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel baru—dalam tanda kutip—milik Ric. Dia mengulurkan pada pemiliknya yang menerima kemudian meletakkan di meja.
“Bukankah waktu itu saya sudah mengganti uangmu yang hilang?” kata Pak Abu mengawali percakapan dengan Idzar.
“Benar, Pak,” balas Idzar tidak berani menatap Pak Abu.
“Lalu?”
“Bagaimana uangnya nggak hilang, kalau tiap hari setor ke bandar judi,” Ric justru yang menyahuti. Ucapannya jelas berbuah tatapan memicing dari Pak Abu. “Kamu main judi online, kan?” Ric telah menatap tajam Idzar yang segera membalasnya. Satu tatapan heran, bagaimana Ric bisa tahu tentang judi online itu.
“Ric, yang kamu katakan dugaan atau kamu tahu benar?” tegur Pak Abu dengan isyarat jangan menuduh orang sembarangan.
“Kalau ada Fatih, dia pasti bisa menguatkan argumen saya. Tetapi di sini ada Dion, waktu itu bukankah Fatih pernah bilang minta traktir makan karena Idzar habis menang besar. Waktu itu Dion bertanya, menang besar apa? Dan Fatih menjawab dengan permainan yang menghasilkan uang. Kamu waktu itu bertanya apa itu judi, kan?” Ric memaling pada Dion selepas memutar ulang percakapan yang pernah dia dengar secara kebetulan.
Dion tampak memuat ingatan. “Ah ya, benar.”
Ric menghela napas lega. Dia hampir saja khawatir ingatan Dion tentang percakapan waktu itu menghilang. Seperti sifat asli Dion yang pelupa.
“Itu terjadi kalau tidak salah setelah uangmu hilang, dan Pak Abu menggantikannya, kan?” Dion meneleng pada Idzar yang sama sekali tidak memalingkan wajahnya pada Dion. “Itu saya ingat, karena setelah itu Idzar benar-benar mentraktir kami iga bakar dinosaurus. Serasa makan makanan sultan waktu itu,” cerocos Dion dengan berapi-api. “Lain kali kalau kamu menang, jangan lupa traktir kami lagi ya, Bro.” Tanpa merasa berdosa Dion menepuk pundak Idzar.
“Benar itu, Zar?” Pak Abu mengklarifikasi pada orang yang bersangkutan.