PUNKER

Xie Nur
Chapter #29

Penjara Jiwa Yang Lebih Menyakitkan

Malam harinya Pak Abu mengumpulkan penghuni asrama putra di masjid setelah salat Isa. Sebagai kata pembuka Pak Abu hanya mengatakan Idzar akan mengatakan satu hal mengenai pencurian di asrama putra.

Tetapi para penghuni asrama kelihatan sudah tahu siapa pelaku sebenarnya. Mereka terlihat tidak begitu respek ketika Idzar mengungkapkan permintaan maafnya secara tidak langsung.

Ric memandang ke semua penghuni asrama yang dulu pernah mengucilkannya. Perlakuan yang sama tampaknya akan Idzar terima. Tetapi bukan ini yang Ric mau. Membawa Dion sebagai saksi ternyata seperti melempar koin yang memiliki dua sisi. Ada sisi baik dan sisi buruknya.

Sisi baiknya jelas kata-kata Dion dapat memberikan keterangan terkait peristiwa sebelum kejadian. Sisi buruknya, Dion yang bocor tentu saja menceritakan tentang pelaku sebenarnya kepada seluruh penghuni asrama.

“Saya sungguh minta maaf atas ketidaknyamanan yang telah saya timbulkan,” ucap Idzar sekali lagi mengakhiri kata-katanya.

“Bukan hanya tidak nyaman. Kamu sudah menyebabkan keresahan. Suasana yang saling picing curiga juga cukup menganggu,” ucap Riyan. “Dan aku sungguh tidak menyangka kamu itu teman yang menusuk dari belakang.”

“Pak Abu, kenapa tidak disuruh pergi saja si Idzar itu. Saya harap Pak Abu mampu bertindak tegas.” Tri yang seorang mahasiswa hukum mengungkapkan tentang memberikan sanksi yang tegas pada pelaku kejahatan. “Setahu saya, yang namanya penjahat itu suatu penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Kalau ada kesempatan, dia pasti akan beraksi lagi. Buktinya banyak penjahat yang sudah dibebaskan kemudian melakukan tindak pidana lagi, malah semakin pintar dia dalam melakukan aksinya.”

“Itu tergantung personal sih, menurutku,” sambar Ric.

“Tidak, aku lebih setuju dengan pendapat Cesare Lombroso yang mengatakan perilaku kriminal itu lahir karena bawaan. Ada gen pembawa ciri jahat itu," bantah Tri dengan sorot mata yang menyala.

“Orangtuaku bukan orang jahat,” protes Idzar dengan mata nyalang.

“Mungkin, kakek nenekmu atau buyutmu?” tanggap Tri tidak mau kalah. “Karena bawaan gen, meski sudah mendapat hukuman dia tidak akan pernah merasa jera.”

“Berarti itu tergantung personal, kan?” Ric ingin mempertahankan argumennya menyesuaikan dengan pernyataan dari Tri. “Tidak semua seperti itu.”

“Bukankah banyak faktor yang bisa memicu kejahatan?” balas Bagus yang merupakan mahasiswa sosial.

“Jadi inti dari pembicaraan ini apa?” ujar Sena. “Saling argumen teori?”

Lihat selengkapnya