“Sekarang kamu puas, hah?” Idzar menyambut kedatangan Ric yang pulang dari mengamen. Dia duduk menghadap langsung ke arah datangnya anak tangga.
“Maksudnya?” tanya Ric menghentikan langkah tepat di pinggir anak tangga teratas.
“Eish, pura-pura enggak tahu,” desis Idzar. “Semua orang di sini sekarang mengucilkanku. “Itu semua karena kamu, masa enggak ngerti!”
“Terus mau kamu apa?” tanya Ric santai. “Toh, yang terjadi itu kenyataan. Kamu harus berani menelannya meski itu pahit. Berani bertindak harus berani menanggung akibatnya. Jangan jadi pengecut curut. Kamu tahu tikus curut? Teriakannya saja yang keras seperti mau menggigit, tapi ketika ada orang datang dia akan lari terbirit-birit.”
Idzar tersenyum sinis sambil membuang muka. “Kenapa sih, mereka semua bisa langsung percaya sama orang seperti kamu? Berandal laknat!”
“Kamu dan Riyan sangat membenciku, apa alasannya?” Ric menanyakan satu hal yang selama ini mengganggu dirinya. Meski praduganya sudah mengatakan dengan jelas, pastilah karena status dan penampilannya.
“Aku juga heran dengan Pak Abu bisa-bisanya menampungmu?”
“Terus terang aku juga heran kenapa Pak Abu mau menerimaku.” Ric tersenyum asimetris. “Aku sih, hanya berpikir, Tuhan pasti sedang ingin aku belajar menjadi lebih baik. Semestinya kamu pun begitu. Masih diberi kesempatan untuk tinggal oleh Pak Abu agar tobat dan memperbaiki diri. Tidakkah kamu melihat ketulusan itu. Terlepas dari penghuni asrama yang kamu bilang mengucilkan. Kupikir, semua akan kembali normal sesuai tindakanmu, adakah itikad untuk berubah. Hei, kamu itu tidak bisa mengubah keadaan sekitar, sebelum kamu mengubah dirimu sendiri.” Tidak biasanya Ric bicara panjang lebar. Selagi Idzar belum menyela.
“Sok ceramah dia,” ucap Idzar melengos.
Ric yang sedang lelah menjadi malas meladeni Idzar yang terlihat keras kepala. Percuma! Buang energi saja. Idzar seperti tidak mau belajar dari kesalahan. Ric pun memilih melangkah menuju kamarnya. Matanya sungguh terlalu berat untuk menyangga kehidupan hari ini.
“Aku belum selesai!” seru Idzar.
“Bicaralah pada langit,” ucap Ric sebelum menghilang ke lorong kamar.
Secara tidak terduga Idzar memburu Ric. Tanpa banyak kata lagi, pemuda itu langsung menarik Ric yang hendak membuka pintu dan memukulnya. Ric yang tidak siap mendapat pukulan terhuyung hingga jatuh terjengkang. Bukan karena alasan tidak siap semata. Pukulan Idzar sungguh bertenaga. Belum lagi Ric bangun, Idzar sudah menendangi Ric secara membabi buta.
Ric yang sudah sejak awal lengah menjadi bulan-bulanan ujung kaki Idzar yang masih mengenakan sepatu. Padahal aturannya masuk ke asrama tidak diperkenankan menggunakan sepatu. Cukup aneh, Ric sempat berpikir sepertinya Idzar memang sengaja menunggunya untuk menghajarnya seperti ini.
Mendapat hujaman yang bertubi-tubi, Ric hanya bertahan berusaha melindungi bagian tubuhnya yang vital dari kepala hingga bagian depan tubuh. Ric meringkuk dengan membiarkan punggungnya berkorban demi kelangsungan hidupnya. Berharap saja, tulang punggungnya tidak patah luluh lantak.