Berkas cahaya kemerahan telah terlihat dari ambang tangga turun. Ayom dan beberapa anak yang terbangun langsung menuruni tangga untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Tiba di bawah penghuni asrama putra lantai pertama sudah terlihat berlarian ke luar gedung. Mereka ada juga yang berlari ke arah masjid. Ada yang mendorong sepeda motor dengan kepayahan. Kepanikan melanda. Penghuni asrama putra lantai atas sempat terheran-heran sebelum akhirnya mata mereka disuguhi api yang telah menjilati tempat parkir.
Melihat situasi yang gawat, terlebih menyangkut kendaraan mereka yang terparkir di sana, Ayom dan yang lain ikut berhamburan berpencar. Sebagian memilih menyelamatkan motor yang belum terbakar. Yang lain mencari sesuatu untuk memadamkan api.
“Telepon pemadam kebakaran!” seru Riyan tersara-bara tetapi tidak ada yang turun membawa ponsel. Dia pun segera lari ke kamarnya sambil berteriak-teriak kalau ada kebakaran.
Penghuni lantai atas yang masih terlelap mau tak mau terbangun dan melongok keluar. Meski tetap saja ada yang tidak bangun seperti Idzar, Fatih, Aziz termasuk Ric.
“Biar saja, kalau kamar kita ikut terbakar, biar mereka menjadi manusia panggang,” tutur Tri yang terus memelesat turun.
“Eh, berapa nomor pemadam kebakaran.” Riyan masih ribut sendiri saat teman yang lain bahu-membahu membawa air secara estafet. Hal tersebut dilakukan supaya menghemat tenaga dan waktu. Demi bisa memadamkan si api yang terlihat beringas dengan latar pekat malam.
Dua motor sudah terbakar, sulutan bahan bakar pada kendaraan membuat api seolah tidak ingin mati. Dia makin menari-nari gembira. Kini yang keluar untuk memadamkan api bukan hanya penghuni asrama putra, penghuni asrama putri turut pula membantu.
Air yang datang menyiram seakan tidak ada artinya dibanding kemarahan yang telah telanjur termuntahkan. Saat tubuh mulai lelah, bunyi menguing ramai cukup melegakan hati. Anak-anak yang bergotong royong berusaha memadamkan api, memilih berhenti mengambil air. Mereka duduk pada tempat masing-masing, sambil menuntas keringat.
Riyan yang masih mencari nomor pemadam kebakaran kegirangan, bahkan mengatakan berkat dirinya mobil itu datang. Padahal yang menelepon damkar, Pak Abu selepas mendengar keributan di luar dan melihat situasi yang genting.
Petuga pemadam kebakaran bekerja sigap. Mereka segera menyiapkan selang semprot untuk menghancurkan pertahanan si monster api. Tidak butuh waktu lama bagi petugas menghentikan keliaran jilatan lidah membara yang akan meninggalkan bekas hitam. Kata petugas upaya cepat mereka berhasil meredam keganasan api dengan cepat karena penghuni asrama telah melakukan antisipasi menyiramkan air pada bagian yang belum terbakar.
Anak-anak masih terduduk memandangi tempat parkir yang menyisakan dua sepeda motor yang tidak sempat terselamatkan juga mobil pick up yang teronggok diam. Mobil pick up itu terduga menjadi korban pertama kebakaran, jika merunut pada arah datangnya api.
Petugas kebakaran lalu meneliti sumber api dan diketahui bahwa sumber api dari samping mobil pick up yang tergeletak beberapa alat masak.
“Apa ada yang masak-memasak di sini?” tanya salah satu petugas yang menenteng satu panci yang warnanya seperti malam yang tua.
Anak-anak menggeleng sambil berpikir, adakah yang iseng memasak di tempat parkir. Lalu Zakaria menyuarakan tentang alat perkusi Ric yang terbuat dari barang bekas dan teronggok di situ.