Penghuni asrama putra masih heboh bercerita tentang kejadian dini hari saat makan malam. Bahkan beberapa kelucuan terselip di antaranya. Kelucuan yang sebenarnya merupakan sebuah kecelakaan kecil, namun bila diresapi mengundang muatan yang menggelikan.
“Masa Jamal nggak sadar kalau bawa ember bocor, dia paling semangat berlari dari kamar mandi tapi begitu sampai di depan api, dia malah kebingungan mencari air. Ekspresinya itu loh, kayak orang kehilangan bulu hidung,” sembur Toni disertai tertawa ngakak. “Aku yang lagi mindahin motor sampai nggak fokus.”
“Rasain,” balas Jamal yang setelah itu melihat Toni terjungkal tertindih sepeda motor Adinata yang pertama berhasil diamankan meski kaca spionnya menjadi korban. “Makanya jangan tertawa di atas penderitaan orang lain. Kena karma, kan, kau!” Jamal mengacungkan sendoknya ke arah Toni.
“Menurutku yang paling menyebalkan itu Riyan, dia mengoceh sendiri dengan ponselnya. Sok sibuk memanggil mobil pemadam,” celoteh Sena yang mulai menyalakan rokoknya. “Tetapi sebelum dia berhasil menghubungi mereka, mobil pemadam sudah datang. Aku denger gerundelannya saat berlari melewatinya, saat dia tidak menemukan nomor pemadam Purwokerto.”
“Herdi juga malah asyik merekam, tuh!” tuding Jamal dengan mulut penuh makanan.
“Sori, aku sekalian membikin konten,” balas Herdi meringis. Dia itu di asrama sudah terkenal sebagai tukang rekam. Penampilannya sudah seperti seorang seniman meski dia anak ekonomi yang terkenal elit. Videonya juga sudah lumayan banyak di Youtube. Meski subscriber-nya cuma anak asrama yang dipaksa untuk me-like dan men-sub. “Itu juga kulakukan full setelah petugas pemadam datang. Aku cuma mengambil beberapa scene menarik, kok, sembari membantu memadamkan api.”
“Payah,” sembur Jamal hampir memuncratkan makanan di mulutnya.
“Parah!” imbuh Toni yang duduknya dengan mengangkat satu lutut ke kursi.
“Menurut kalian siapa yang membakar tempat parkir?” kata Tri mengemukakan rasa penasarannya. “Semula aku pikir itu Ric, tetapi anak itu terlihat histeris saat mendapati alat mengamennya hampir menjadi abu.”
“Kalau orang luar, motifnya apa?” timpal Toni.
“Apa ada orang yang tidak suka dengan Pak Abu?” praduga Jamal.
“Mas Tito kenapa juga pakai ketiduran saat jaga pos.” Sena sedikit merutuki.
“Besok mungkin hasil analisa dari petugas pemadam sudah ada,” timpal Bagus.
“Tapi itu tetap tidak bisa merujuk pada pelaku,” tanggap Tri.
“Setidaknya kita jadi tahu itu karena faktor kesengajaan atau tidak,” balas Bagus setelah menyesap kopinya.
Keheningan datang. Semua tampak berpikir kenapa hampir satu bulan ini ada saja kejadian yang menimpa.
“Wah, pada keterlaluan nih, ada kebakaran kenapa kalian tidak membangunkan aku. Sama kayak Idzar,” kata Fatih yang baru saja merayap turun.
“Kamu kalau tidur apa bisa mudah bangun,” sambut Tri yang merupakan tetangga kamar Idzar dan Fatih. “Kamu udah kayak Aziz. Kalau sudah tidur kayak orang mati.”
“Memangnya Idzar terbangun saat kebakaran?” tanya Sena.
“Waktu Subuh aku terbangun dia nggak ada,” tanggap Fatih. “Kupikir dia ikut membantu memadamkan api dan sengaja membiarkan aku tetap terlelap.”
“Perasaan kita nggak lihat orang itu, deh,” sambar Sena lalu menatap semua orang yang ada di ruang makan.