“Dia pergi,” ucap Fatih.
“Siapa?” tanya Herdi.
“Siapa lagi kalau bukan Idzar,” balas Fatih tampak gusar.
Semua mata yang berada di ruang makan saling pandang. Segala praduga membersit di hati dan pikiran masing-masing.
“Yah, seperti kubilang. Paling dia pulang kampung,” tanggap Bagus dengan santai. Dugaannya terdengar anti mainstream, bermuatan positif.
“Enggak,” Fatih mengambil gelas lalu mengambil air minum dari dispenser yang berada dekat tempat penirisan piring, pada sudut dekat deretan kamar terluar. Gaya Fatih sudah seperti peserta maraton lari yang berhasil finis tapi tidak menang. “Barang-barangnya enggak ada,” lanjut Fatih setelah teman-temannya dengan sabar menunggu kelanjutan ceritanya.
“Serius? Dia minggat?” tanya Toni.
“Sepertinya,” jawab Fatih. “Sebelum itu aku memang tidak terlalu memperhatikan barang-barang Idzar. Tapi setelah dilihat dengan saksama, ternyata mejanya hanya tertinggal buku-buku catatan lama. Lalu ketika aku mengecek lemari, bajunya juga tidak ada.”
“Pindah kos ke mana dia?” ujar Tri.
“Jangan-jangan yang membakar tempat parkir kita dia,” cetus Herdi membuka wacana baru mengenai pelaku pembakaran tempat parkir yang misterius.
“Tapi barang berhagamu tidak ada yang hilang?” tanya Tri memastikan pada Fatih.
“Alhamdulillah tidak ada yang hilang. Lagi pula aku, kan, tidak punya apa-apa.” Fatih meringis. Kalau mau mengerjakan tugas yang diketik saja aku masih ngerental.”
“Syukurlah, berarti dia memang hanya pergi.” Jamal menarik kesimpulan.
“Tidak,” Ric ambil suara. “Sepertinya memang dia yang membakar tempat parkir. Mungkin tepatnya dia hanya ingin membakar alat perkusiku. Tapi tidak disangka api kemudian cepat melahap mobil pick up. Karena itu, dia kemudian memilih kabur.”
“Apa benar seperti itu?” tanggap Jamal.
“Apa kamu melihat langsung kejadian itu?” tuduh Toni.
Ric menggeleng.
“Kamu mengarang cerita?” balas Fatih.
“Menurutku, dia takut Ric cerita pada Pak Abu dan yang lain karena sudah menghajarnya.” Sebuah suara dari arah tangga memalingkan semua kepala. Riyan berjalan mendekat ke meja makan.
Kini semua mata telah berpindah memandang Ric.
“Benarkah?” Zakaria langsung memastikan pada orang bersangkutan, Ric.
“Aku tidak tahu, kenapa dia sangat membenciku,” tanggap Ric. “Sama seperti kamu, Yan.”
Riyan berdeham, lalu seperti teringat pada tujuan semula dia turun ke bawah. Tanpa menanggapi celotehan Ric, dia menuju tempat meja panjang yang bertengger dispenser dan di sebelahnya terdapat wadah berisi gula, teh dan kopi untuk membuat minuman.
“Masuk akal juga kalau pelakunya dia,” analisis Tri. “Motornya juga tidak ada, kan?”