“Ayo, makan martabaknya.” Pak Abu mempersilakan Ric mengambil martabak telur yang telah tersaji di meja teras depan rumahnya.
Pagi ini Pak Abu sengaja memanggil Ric setelah menyelesaikan tugasnya. Dua hari setelah kejadian kebakaran menghanguskan tempat parkir dan melubangi beberapa atapnya. Kondisi tempat parkir itu belum mendapat perbaikan. Masih menghitam sebagian. Seperti hati Ric yang senantiasa mendung ketika alat perkusinya menyisakan puing yang merana.
“Terima kasih, Pak,” sambut Ric lalu mengambil martabak yang masih hangat.
“Nah, tunggu sebentar.” Pak Abu berdiri kemudian masuk seperti ingin mengambil sesuatu yang tertinggal. Ketika beliau keluar dia telah memegang satu amplop putih lalu langsung dia serahkan pada Ric.
“Apa ini Pak?” tanya Ric menerima amplop itu dalam kebingungan.
“Gaji kamu.” jawab Pak Abu.
“Gaji?” Ric menelengkan kepala. “Gaji untuk apa?”
“Bukankah kamu setiap hari membersihkan masjid dan lingkungan sekitar. Itu upah yang tidak seberapa untukmu.”
“Tetapi saya melakukan pembersihan itu sebagai ganti saya ikut makan dan tinggal di sini,” ujar Ric meletakkan amplop putih itu di meja. Mendorongnya ke arah Pak Abu.
“Yang lain juga makan dan tinggal gratis, saya tidak mungkin membedakan perlakuan itu padamu,” dalih Pak Abu. “Maaf, kalau baru sempat memberimu itu. Satu bulan ini banyak kejadian yang datang yang cukup menguras uang saya.”
“Karena itu tidak usah,” ucap Ric menerobos perkataan Pak Abu. “Lagi pula bukankah Pak Abu perlu uang untuk memperbaiki tempat parkir yang rusak? Ah ya, apakah uang yang di bank aman?”
“Ya, seperti kata Tri. Sebelum diblokir, uang saya hilang lima juta.”
“Nah, kan!” jari telunjuk Ric bergerak seperti ayunan pistol yang memuntahkan peluru ke arah perut Pak Abu.
“Masalahnya saya baru menyadari satu hal.” Pak Abu terdiam. Ric menunggu tanpa menyela kata. “Sepertinya saya telah mendzalimi kamu, sehingga uang saya jadi hilang.”
Ric mengerjap tidak mengerti. Kepala bahkan menggeleng, menyangkal pernyataan Pak Abu yang menurut Ric sama sekali tidak berdasar.
“Yah, seharusnya saya memberimu upah segera, jangan sampai keringatmu tuntas dan mengering. Tapi saya menundanya terlalu lama. Maafkan saya.” Pak Abu melanjutkan ucapannya sebelum Ric menyangkal dalam kata.
“Pak Abu terlalu berlebihan,” tanggap Ric kemudian, sambil menyadari satu hal. Apa ini artinya Pak Abu sedang bicara tentang karma. Benarkah kedatangannya membawa beraneka macam petaka? Semacam kutukan?
“Tidak, tidak seperti itu. Karena saya mengabaikan hakmu, lihat konsekuensinya.” Tangan Pak Abu membuka sejajar kedua lututnya yang menekuk menghadap meja. “Bukankah uang saya malah semakin tersedot habis untuk keperluan yang seharusnya tidak ada. Bukan bermaksud menentang takdir, tapi saya pikir setiap kejadian ada sebab-musababnya. Saya terlalu meremehkan tenaga yang telah kamu keluarkan. Sampai-sampai kamu mengamen tiap malam untuk mendapatkan recehan demi memenuhi keperluanmu sendiri.”
Ric lalu menarik amplop yang masih terombang-ambing di meja. Dia membuka amplop itu dan melihat isinya. Beberapa lembar uang ratusan ribu saling berdempetan menggoda. Ric mengambil dua lembar uang dari amplop itu.