Melihat mahasiswa yang lalu lalang di sekitarnya, itu cukup membawa diri Ric teringat sewaktu masih menjadi bagian dari mereka. Berjalan seolah menjadi orang paling intelek, selalu perpegang pada idealisme teori yang didapat, merasa telah lebih unggul dari orang-orang yang tidak mengenyam bangku kuliahan. Kadang menjadi jumawa ketika mengenakan jaket almamater dari universitas yang lebih ternama.
Adakah perasaan itu pernah menyelinap di hatinya? Ric pikir seperti itu. Tetapi hanya sekejap, karena kemudian hatinya mendadak berbelok arah, merasa tidak nyaman dengan perkuliahan yang seperti mengekangnya. Pikirannya pun menjadi lelah.
Ric ingin terbang. Ric ingin melayang bersama hentakan nada yang sering dia mainkan. Pada detik ini Ric sungguh ingin menanyai salah satu dari para mahasiswa itu, apakah mereka bahagia dengan pilihan jurusan kuliahnya sekarang? Tidakkah nanti mereka akan menyesal. Telah memilih jalan yang bukan dari hati dan jiwanya. Atau bila itu sesuai dengan iramanya mungkinkah suatu saat kebosanan juga akan menjeratnya?
Sepertinya, pada siklus hidup manusia rasa bosan akan terus datang menggoda. Saat Ric menemukan satu komunitas yang positif, dia justru ingin berlari menuju satu komunitas yang salah dalam menafsirkan apa itu arti kebebasan yang hakiki. Lalu apakah kemudian Ric bosan hingga memilih membiarkan dirinya terdampar sendiri di sini? Di tempat yang mengandung kenyamanan, yang entah bila menghilang kembali secara tiba-tiba.
Ric tersenyum asimetris, rokok masih terpegang di tangan kanan sesekali terhisap mulutnya. Sementara itu kepalanya menyandar sisi tepian tembok pintu masuk Fakultas Kedokteran Gigi dengan posisi kaki satu sejajar pantatnya yang satu jatuh ke undakan di bawahnya.
Cara duduk Ric yang seperti itu, membuat canggung mahasiswi yang akan melewatinya. Tetapi Ric tidak mengacuhkannya. Masih ada ruang yang cukup luas untuk mereka lewat. Jangan hiraukan dirinya, atau kalian ingin merasakan wajah memar yang tidak hilang dalam tiga hari.
Setelah mengambil jatah uang secukupnya, Ric menepati janji hati. Hari ini dia ingin menraktir Zakaria suatu makanan, tergantung pilihan orang yang telah memberinya ponsel itu. Karenanya Ric menunggu Zakaria keluar dari kampus yang bukan kampusnya.
Biasanya Zakaria akan pulang ketika azan Zuhur berkumandang. Ric pikir sebentar lagi pemuda itu akan keluar. Menimbang pada waktu keberangkatan Ric pukul sebelas dari rumah Pak Abu.
Nah, benarkan? Wajah terkejut Zakaria tersurat nyata saat melihat Ric seperti penagih utang untuknya.
Zakaria sempat berpikir ingin mengabaikannya. Tetapi Ric telah berdiri dan menghampirinya. Sekilas mata Zakaria berputar memastikan tidak ada yang akan curiga pada orang yang akan ditemuinya itu.
“Oi Zak!” Ric memasang senyum lebar.
“Ada apa?” Kebalikan dari Zakaria yang terlihat risih.
“Aku ingin menraktirmu makan,” ucap Ric tanpa basa-basi.
“Oh ya,” sangsi Zakaria. “Kamu dapat uang dari mana?” tanya Zakaria yang terus melangkah keluar area kampus. Sama sekali tidak menoleh pada Ric, seolah dia berbicara dengan kakinya sendiri.
“Jangan suudzon gitu, dong!” sergah Ric meraih pundak Zakaria.
“Tentu saja aku curiga.” Zakaria menghempas tangan Ric. Dia kini menghadapi Ric dengan benar. Berbicara sambil menatap mata pemuda yang terlihat urakan. “Pak Abu baru saja kehilangan dompetnya. Tiba-tiba kamu punya uang. Tidakkah itu sesuatu yang sangat tidak wajar untukmu. Meski tersangka sementara telah ditetapkan sebagai Idzar.”
“Sungguh keterlaluan prasangkamu itu.”
Zakaria tersenyum tipis. “Jadi dari mana uang itu?” Tanpa menunggu jawaban dari Ric, Zakaria telah melangkahkan kakinya menyisir trotoar sempit di antara rerumputan.
“Oi, aku gajian, Bro!” kata Ric lalu mengeluarkan selembar uang ratusan ribu dan selembar uang lima puluh ribu, sisa membeli rokok dari saku celana. Ric mengibar-kibarkan uang itu di depan muka Zakaria.
“Benarkah?” wajah sangsi Zakaria masih terlihat.
“Kamu boleh tanya Pak Abu.”
“Berapa gajimu? Seratus lima puluh ribu?”
“Aku nggak menghitung,” sahut Ric. “Ada banyak sih, tapi aku kembalikan pada Pak Abu.”
“Kenapa?” tanya Zakaria yang telah membawa langkah kaki keluar pintu gerbang kampus beberapa meter jauhnya.
“Belum butuh,” jawab Ric singkat.