PUNKER

Xie Nur
Chapter #36

Ketika Kebohongan Tersibak

“Ri─riyan?” Zakaria seperti habis melihat hantu.

Ric menoleh ke arah yang membuat Zakaria mendadak pasi dengan senyum teruntai cemas. Serta merta Ric mendapati tubuh menjulang Riyan menatap balik padanya.

“Menyembunyikan identitas apa?” tanyanya memastikan. Senyum mengandung kemenangan terlihat jemawa. Ia seolah pengawas yang mendapati peserta ujian mencontek. Tanpa ampun menarik paksa lembar soal dan lembar jawaban, membiarkan siswa atau mahasiswa tersangka ternganga. “Ternyata benar kamu itu bukan mahasiswa ya?” Mata Riyan langsung menghakimi Zakaria.

“Memangnya kenapa dengan itu?” Ric berdiri menghadapi Riyan dengan mata ingin mencabiknya.

Riyan tertawa, “Lihat dua cecunguk penipu ini?” ucapnya pada temannya.

Ric kali ini benar-benar muntab. Dengan cepat dia telah melayangkan tinjunya ke muka Riyan yang sama sekali tidak menyangka. Tubuh Riyan sampai oleng dan tangannya masuk ke mangkuk mi ayam milik temannya.

Satu pukulan menurut Ric sudah cukup membuatnya lega, tanpa orang perlu mencekalnya, seperti Zakaria yang telah menarik-narik tangannya. Begitu juga pemilik warung mi ayam yang segara menghampiri keberadaan mereka.

“Kalau mau berkelahi di luar!” ucapnya tegas, terutama pada Ric yang masih terlihat menyala. “Bisa pecah semua mangkuk-mangkukku nanti,” kedumelnya sambil mengambili mangkuk dari dua meja yang terlibat pertikaian.

“Ayo!” Zakaria menarik tangan Ric lebih kuat.

Riyan sendiri merasakan pipinya kebas, dan sedikit nyeri di sudut bibirnya. Ini menjadi pengalaman pertama baginya kena pukulan yang terasa seperti terbentur aspal saat jatuh dari berkendara sepeda motor. Riyan pernah mengalami hal itu. Dia kini hanya meringis menahan sakit tidak berani menatap Ric lagi.

“Berapa Pak?” tanya Zakaria pada penjual mi ayam ketika sudah berhasil menyeret Ric keluar.

“Lima puluh ribu, sama ganti keributan yang kalian sebabkan.”

Zakaria mengeluarkan dompetnya. Tetapi Ric telah terlebih dahulu menyodorkan selembar uang seratus ribuan pada penjual yang tadi menghardiknya.

“Seratus ribu sama mereka!” tunjuk Ric, lalu berganti menyeret Zakaria yang sempat melongo melihat Ric malah membayari mi ayam Riyan dan temannya.

“Lah, uangmu habis lagi, kan?” rutuk Zakaria menguntit Ric yang telah melepaskan cengkeramannya. “Kenapa juga pakai membayari mereka?”

“Itu karena dia sudah merendahkan dan meremehkan kita,” ucap Ric yang telah pada posisi siaga menyeberang jalan. “Aku ingin lihat apakah dia akan diare setelah makan dengan memakai uangku.”

“Hem, benar juga.” Zakaria berlari kecil mengikuti langkah panjang Ric sewaktu menyeberang. “Tetapi keputusanmu memukul dia, itu sungguh berbahaya.” Zakaria berdecak. “Kalau kamu tidak bergerak duluan, aku sudah siapkan satu skenario untuk berkelit.”

“Kamu akan menutupi kebohongan dengan kebohongan lagi?” tanggap Ric menoleh pada Zakaria dengan senyum sinis.

Mereka berdua berjalan dengan tingkat waspada tinggi karena melawan arus. Tanggung kalau harus lewat lajur sebelah kiri, karena nanti harus bolak-balik menyeberang.

Lihat selengkapnya