Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #3

3. Perasaan aneh

Aku kembali duduk di bangku ketiga dekat jendela. Cahaya matahari kini tidak lagi setipis tadi pagi. Ia masuk lebih terang, menimpa permukaan meja dan buku catatanku yang masih terbuka di halaman sebelumnya. Suasana kelas perlahan kembali tenang setelah istirahat, meski sisa-sisa tawa dan napas yang sedikit terengah masih terdengar di beberapa sudut.

Aku menaruh tas di bawah meja, lalu merapikan buku dengan gerakan pelan, berusaha mencoba menyesuaikan diri dengan ritme yang mulai terbentuk di kelas ini. Aldi sudah duduk di sebelahku, masih bercerita singkat tentang kucing tadi sambil sesekali tertawa kecil sendiri. Aku hanya mengangguk, mendengarkan, meski pikiranku belum sepenuhnya kembali dari suasana luar tadi.

Pintu kelas kembali terbuka. Bu Rina masuk sambil membawa beberapa buku di tangannya. Suaranya yang lembut kembali mengisi ruangan, memanggil perhatian kami yang masih belum sepenuhnya diam.

"Baik, anak-anak, kita lanjutkan pelajaran tadi, ya!." Ucapnya sambil meletakkan buku di atas meja.

Beberapa anak langsung duduk tegak, sementara yang lain masih sempat berbisik pelan sebelum akhirnya kembali menghadap ke depan. Aku menarik napas kecil, lalu membuka buku catatanku. Pelajaran dimulai kembali. Suara kapur yang menyentuh papan tulis terdengar jelas, membentuk huruf-huruf yang perlahan memenuhi ruang kosong di depannya. Aku mencoba menyalin tulisan itu, mengikuti garis demi garis dengan hati-hati.

Namun, di sela-sela itu, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan sesuatu yang jelas, bukan pula sesuatu yang bisa langsung dijelaskan. Hanya, beberapa tatapan yang terasa lebih lama dari seharusnya. Aku sempat menoleh tanpa sengaja. Dua anak di bangku depan langsung mengalihkan pandangan, menahan senyum yang belum sempat hilang sepenuhnya dari wajah mereka. Aku kembali menunduk. Pensilku berhenti sebentar di atas kertas. Mungkin aku salah lihat. Aku melanjutkan menulis.

Beberapa menit kemudian, suara bisik kecil kembali terdengar. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuatku menyadari bahwa itu ada. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Mungkin bukan tentangku. Tapi, entah kenapa, rasanya seperti ada yang tidak biasa. Aldi masih di sampingku. Ia sesekali menyalin tulisan dengan cepat, lalu menoleh ke arahku, memastikan aku tidak tertinggal.

"Panjang banget ya tulisannya." Bisik Aldi pelan sambil menunjuk papan tulis.

"Iya." Jawabku singkat seraya mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya