Pagi berikutnya datang tanpa banyak perubahan. Langit masih sama, jalan yang kulewati menuju sekolah juga masih sama. Namun entah kenapa, langkahku terasa sedikit lebih berat dari kemarin. Aku masuk ke kelas lebih awal dari beberapa anak lain. Ruangan itu masih sepi, hanya ada beberapa orang dan iringan suara kipas angin yang berputar pelan di langit-langit. Cahaya pagi masuk dari jendela di samping bangkuku, jatuh tepat di atas meja yang masih kosong.
Aku berjalan menuju bangku ketiga dekat jendela, tempatku kemarin. Tanganku otomatis menaruh tas di bawah meja, lalu duduk perlahan. Beberapa menit kemudian, anak-anak mulai berdatangan. Suasana yang tadinya sunyi perlahan berubah menjadi ramai. Suara langkah kaki, tawa kecil, dan percakapan ringan mulai memenuhi ruangan.
Aldi datang tidak lama setelah itu. Ia duduk di sebelahku seperti biasa, tapi kali ini ia tidak langsung berbicara. Ia hanya membuka tasnya, lalu mengeluarkan buku tanpa banyak suara. Aku menoleh sebentar.
"Kucing yang depan pintu sana lucu, ya," kataku seraya menunjuk kucing yang kemarin sempat kami mainkan. Aku mencoba membuka percakapan seperti kemarin.
Aldi tersenyum kecil, tapi tidak bertahan lama.
"Iya," jawabnya singkat, lalu kembali menunduk ke bukunya.
Aku mengangguk pelan. Tak ada lagi obrolan yang bisa kukeluarkan. Suasana kelas terasa sedikit berbeda hari ini. Saat pelajaran dimulai, beberapa anak tampak lebih sering berkumpul. Bangku-bangku digeser sedikit lebih dekat satu sama lain. Bisik-bisik kecil terdengar lebih sering, diikuti tawa yang cepat ditahan begitu Bu Rina menoleh.