Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #5

5. Saat Diam adalah Pilihan

Udara di koridor sekolah siang itu terasa lebih gerah dari biasanya. Bel istirahat kedua baru saja berbunyi, membuat anak-anak berlari berhamburan menuju lapangan. Namun, aku masih di sini, berdiri di ambang pintu kelas dengan saku celana yang terasa berat oleh beban kegelisahan. Aku tidak ingin keluar. Di luar sana, dunia terasa terlalu luas dan penuh mata yang melihatku dengan tatapan tidak ramah. Aku lebih memilih berada di dalam kelas yang nanti akan terasa lengang dan sepi saat semua orang memilih ke lapangan atau kantin. meski aku tahu, berada di sini sendiri pun bukan berarti aku sudah berada di tempat yang aman.

Aku berjalan menuju bangku ketiga dekat jendela. Aldi tidak ada di sana. Ia sudah lebih dulu lari ke kantin bersama teman-teman yang lain. Aku menarik kursi perlahan, mencoba tidak menimbulkan suara. Namun, tepat saat aku hendak duduk, sebuah dorongan kasar dari belakang menghantam bahuku.

Tubuhku terhuyung ke depan, telapak tanganku menghantam permukaan meja kayu yang kasar. Pedih menjalar di kulitku. Aku tidak jatuh, tapi guncangan itu cukup untuk membuat jantungku berdegup kencang. Aku terdiam, tetap dalam posisi membungkuk, menatap lekat pada kayu meja dengan napas tertahan.

"Jalan pakai mata, Raka!" Sebuah suara dingin terdengar dari belakang dan terkesan dengan nada mengejek.

Aku tahu suara itu. Itu suara Bayu, anak laki-laki yang duduk dua baris di belakangku. Aku tidak menoleh. Aku memilih untuk tetap membatu. Aku bisa merasakan kehadirannya di belakangku, seperti bayangan besar yang siap menelanku kapan saja. Tak lama, aku merasakan cubitan keras di lengan atasku. Sakitnya terasa menusuk dan panas, membuat mataku sedikit berair. Tapi, aku tidak berteriak. Aku tidak mengaduh. 

Aku hanya menarik lenganku perlahan, seolah-olah itu hanya gigitan nyamuk yang tidak berarti. Bayu tertawa kecil, suara tawa yang hambar dan meremehkan, sebelum akhirnya ia melenggang pergi bersama dua orang temannya yang belum begitu kuhafal namanya. Mereka sempat menyenggol meja Aldi hingga bergeser, tapi aku tetap diam. Tanganku yang gemetar kini sibuk merapikan letak kotak pensilku yang sedikit miring. Inilah cara bertahan yang kupilih. Pura-pura tak melihat kejadian apapun. Jika aku tidak bereaksi, mungkin mereka akan bosan. Begitu pikirku.

Sepuluh menit kemudian, kelas benar-benar kosong. Hanya ada aku dan suara detak jam dinding yang terasa sangat lambat. Aku memutuskan untuk keluar sebentar guna membasuh wajah di toilet yang berada di ujung lorong jajaran kelas. Namun, saat aku kembali dan baru saja mencapai daun pintu, aku melihat sesuatu yang membuat langkahku terkunci. Di bangkuku, seseorang tengah berdiri, orang itu adalah Bayu lagi. Ia tidak melihatku karena posisinya membelakangi pintu. Dengan gerakan santai, seolah-olah itu adalah miliknya sendiri, tangan Bayu merogoh ke dalam tas biruku yang tergantung di sandaran kursi. Ia membuka risletingnya dengan suara srak yang tajam di keheningan kelas. Aku berdiri mematung di balik bingkai pintu. Dadaku terasa sesak.

Aku melihatnya dengan jelas. Bayu mengeluarkan dompet kecil bermotif mobil-mobilan pemberian Mama. Ia membukanya, mengambil selembar uang sepuluh ribu, uang jajanku yang masih utuh, lalu Bayu memasukkannya ke dalam saku celananya sendiri. Setelah itu, ia melempar dompetku kembali ke dalam tas dengan sembarangan, lalu mulai mengacak-acak buku tulisku. Ia memindahkan buku tugasku ke laci meja paling pojok yang tidak terpakai, lalu menutup tas itu kembali.

Lihat selengkapnya