Pagi tidak lagi terasa seperti sebuah awal yang baru bagiku. Sejak kejadian di kelas kemarin, setiap kali melangkah melewati gerbang sekolah, ada sebuah beban yang menekan dalam dadaku. Aku tidak lagi berjalan dengan kepala tegak melihat burung-burung di pepohonan. Mataku kini lebih sering tertuju pada lantai, pada ujung sepatu hitamku, atau pada bayangan orang-orang yang mendekat. Aku mulai belajar mengenali suara langkah kaki. Aku tahu mana langkah kaki Bu Rina yang ringan, langkah kaki Aldi yang terburu-buru, dan langkah kaki Bayu yang terdengar santai, tapi dalam benakku terasa berat dan mengancam.
Gangguan itu tidak datang secara bertubi-tubi. Ia datang seperti tetesan air yang perlahan meretakkan batu. Sangat kecil, namun berulang.
Saat jam pelajaran seni, aku sedang fokus mewarnai gambar pemandangan di bukuku. Tiba-tiba, sebuah dorongan kuat di bahu membuat tanganku tergelincir, meninggalkan garis krayon hijau panjang yang merusak gambar langitku yang sebelumnya sudah kuwarnai dengan warna biru cerah. Aku tersentak, menoleh sekilas, dan mendapati Bayu baru saja lewat menuju meja guru. Ia tidak meminta maaf. Ia bahkan tidak menoleh, hanya menyeringai tipis pada temannya seolah-olah tabrakan itu adalah hal paling lucu di dunia.
Aku terdiam, menatap gambarku yang rusak. Jariku gemetar saat mencoba menghapus garis itu dengan perlahan agar kertas gambarku tidak sobek. Tapi, aku baru tahu krayon tidak bisa dihapus sepenuhnya. Rasa kecewa melihat gambarku semakin terasa di hati karena aku sudah berusaha membuat gambar sebagus mungkin. Aku merasa tidak aman dan takut secara bersamaan.
Keadaan menjadi lebih sulit saat waktu istirahat tiba. Aku berusaha tetap berada di dekat Aldi, berharap keberadaannya bisa menjadi penolongku. Namun, saat Aldi sedang asyik tertawa bersama teman-teman yang lain di lapangan, sebuah cubitan tajam kembali mendarat di lengan atasku. Kali ini lebih keras dan lebih lama. Tapi, banyak orang yang tidak menyadari karena Bayu melakukannya seolah-olah dia sedang menyapaku dengan hangat.