Bayu semakin terang-terangan mengusiliku. Kini, ia tidak lagi merasa perlu menunggu kelas sepi atau mencari tempat yang sepi seperti kemarin. Keheningan dan kepasrahanku selama beberapa hari ini tampaknya telah memberi peluang baginya untuk melangkah lebih jauh. Di bawah sorot lampu neon yang terang, saat Bu Rina sedang membelakangi kami untuk menulis di papan tulis, Bayu mengangguku dengan lebih berani.
Suara brak kecil terdengar saat Bayu sengaja mendorong tumpukan bukuku hingga terjatuh ke lantai. Beberapa anak di barisan depan menoleh. Aku merasa kaget dan segera membungkuk untuk memungutnya. Namun, saat aku baru saja hendak duduk kembali, kursi kayu itu ditarik sedikit ke belakang. Aku hampir terjatuh jika tidak segera menumpu berat badan pada pinggiran meja.
Terdengar tawa kecil dari sudut kelas. Bukan tawa yang jahat, mungkin hanya tawa spontan melihat adegan yang dianggap lucu, namun bagiku suara itu seperti sebuah pisau yang menghantam meninggalkan jejak rasa malu yang hebat menyengat wajahku hingga ke telinga. Telingaku terasa panas, memerah karena kesal dan malu. Rasanya seluruh ruang kelas menjelma menjadi panggung besar, dan aku adalah tontonan yang gagal.
Aku tidak berani menoleh pada siapa pun. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku merapikan kembali buku-buku itu ke atas meja dan duduk setegak mungkin, seolah-olah semuanya baik-baik saja. Aku menatap papan tulis dengan pandangan kosong, mencoba menelan sesak di dada yang kian menghimpit. Di sekelilingku, anak-anak kembali pada aktivitas mereka sendiri setelah hiburan singkat itu usai. Tidak ada yang bertanya mengapa hal itu terjadi. Tidak ada yang benar-benar membela.
Aldi di sampingku melihat segalanya. Ia sempat menoleh padaku, mulutnya terbuka sedikit seolah ingin menanyakan sesuatu. Ada gerakan kecil di pundaknya, seolah ia ingin menggeser kursinya lebih dekat atau setidaknya membantuku merapikan kotak pensil yang bergeser. Namun, melihat kepalaku yang tertunduk kaku, ia urung bicara dan kami berdua kembali menulis. Ketakutan untuk ikut menjadi sasaran pertengkaran dengan teman lainnya tampaknya membuat Aldi memilih mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Siapa itu yang berisik?" tanya Bu Rina sambil menoleh sedikit ke arah barisan kami dengan tangan yang terus menulis di papan tulis. Suara kapur tulisnya berhenti sejenak, menyisakan ketegangan tipis di barisanku.
"Buku Raka jatuh, Bu," sahut Bayu seolah-olah dia bukan pelaku utama.