Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #14

14. Aku hanya Membantu

Jam istirahat seharusnya menjadi waktu yang paling kutunggu. Waktu di mana aku bisa mengistirahatkan kepalaku dari deretan angka dan huruf, atau sekadar menikmati embusan angin di bawah pohon besar dekat lapangan dan bermain bersama teman-teman. Namun, hari ini, waktu istirahat itu perlahan bergeser menjadi sesuatu yang melelahkan.

Semuanya bermula saat aku baru saja hendak beranjak dari bangku, seorang anak dari barisan tengah menghampiriku. Namanya Dimas. Ia tidak membawa tatapan sinis seperti Bayu, suaranya pun terdengar cukup ramah.

"Raka, mau ke kantin, kan? Titip belikan minuman dingin satu, ya? Ini uangnya," katanya sambil menyodorkan selembar uang ribuan yang sudah agak lusuh.

Aku sempat ragu. Sebenarnya aku hanya ingin duduk diam sebentar, tapi lidahku terasa kelu untuk mengucap kata "tidak". Aku takut jika aku menolak, ia akan menganggapku sombong, atau melabeli aku seorang teman yang tak suka menolong, lalu ia akan bergabung dengan kelompok Bayu untuk memusuhiku. Maka, aku hanya mengangguk pelan. 

"Iya, boleh," jawabku lirih. Namun, percakapan itu ternyata memancing telinga yang lain. Bagai pengumuman yang disiarkan lewat pengeras suara, satu per satu anak mulai mendekat ke mejaku.

"Eh, Raka, aku juga titip roti cokelat satu, ya!"

"Aku titip permen dua bungkus, yang rasa stroberi!" 

"Aku juga, Raka! Nitip mi instan gelas satu, jangan lupa minta sendoknya!"

Dalam sekejap, mejaku penuh dengan lembaran uang kecil dan daftar pesanan yang tumpang tindih sampai aku pun ragu mengingatnya dengan baik. Aku berdiri terpaku, memandangi tumpukan uang itu dengan perasaan bingung. Mereka bicara seolah-olah aku adalah petugas kantin yang memang bertugas melayani mereka. 

Tak ada satu pun dari mereka yang bertanya apakah aku keberatan atau tidak.

Aku mulai melangkah keluar kelas dengan kedua tangan yang menggenggam erat tumpukan uang. Lorong sekolah terasa lebih panjang dari biasanya. Sesampainya di kantin, aku harus berdesakan dengan puluhan anak lain yang lebih besar.

Aku bolak-balik dari satu etalase ke etalase lain, memastikan seluruh pesanan tidak ada yang terlewat meski perasaan akan ragu begitu kuat.

Lihat selengkapnya