Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #15

15. Ketakutan Raka

Rumah seharusnya menjadi tempat untuk pulang dan menumpahkan segala penat. Namun, bagi Raka rumah itu ibarat sebuah bangunan sunyi yang menjadi pilihan akhir setidaknya ruang bersembunyi dari kerasnya dunia luar.

Raka adalah anak ketiga, terlahir dengan jarak usia yang cukup jauh dari kedua kakaknya. Di bawah atap yang sama, mereka begitu sibuk dengan urusan masing-masing. 

Ayah sibuk bekerja sebagai tulang punggung keluarga, Ibu sibuk mengurus rumah agar seluruh penghuninya merasa nyaman, dan sang kakak sibuk dengan urusan sekolah dan teman-temannya yang sudah berusia remaja sehingga seringkali diperbolehkan bermain jauh di luar rumah.

Mereka tidak saling membenci, mereka hanya tidak terbiasa untuk saling bercerita tentang apapun yang dilalui. Budaya duduk melingkar, makan malam bersama sambil saling melempar cerita tentang bagaimana hari berjalan, atau menanyakan perasaan satu sama lain, adalah hal yang sangat asing. 

Keheningan di rumah membuat Raka terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Namun, setelah malam yang panjang memikirkan rasa pahit dari sepotong roti kemarin, Raka tahu tidak bisa membawa keheningan rumah ini ke sekolah. Diam ternyata bukan solusi. Diam justru membuatnya perlahan tidak dianggap sebagai manusia.

Pagi ini, Raka berjalan ke sekolah dengan sebuah tekad baru yang sebenarnya dia tidak merasa yakin bisa melaluinya. Dia berjanji akan menolak apapun permintaan tolong dari temannya jika itu terasa sangat membebani. Bel istirahat berbunyi nyaring seperti sebuah alarm otomatis bagi para siswa untuk berhamburan ke luar kelas.

Sekelompok anak yang kemarin langsung berhamburan menuju bangku ketiga dekat jendela. Dimas berjalan paling depan, langsung menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan ke depan wajah Raka dengan gaya santai yang menjengkelkan.

"Raka, seperti kemarin ya. Es teh plastik dua sama roti cokelatnya satu. Jangan lama-lama!" katanya, bernada perintah yang dibungkus sumringah palsu.

Lihat selengkapnya