Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #16

16. Semakin Takut

Penolakan kemarin ternyata harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Di usiaku yang baru menginjak bangku sekolah dasar, aku terpaksa memahami bahwa penolakan bisa mengubah sebuah kondisi, dimana hari-hari yang dijalani seharusnya terasa ramai berujung sepi dalam kesendirian.

Akibat dari kejadian kemarin langsung terasa begitu aku melangkah masuk ke dalam kelas pagi ini. Tidak ada lagi sapaan meski berpura-pura ramah, tidak ada lagi anak yang menoleh untuk sekadar melihat apakah aku sudah datang. Sebaliknya, frekuensi suhu di ruang kelas berubah menjadi sedingin es.

Saat aku berjalan menyusuri selasar di antara deretan meja menuju bangku ketiga dekat jendela, bisik-bisik langsung menjalar bagai sengatan listrik.

"Itu si pelit datang," gumam sebuah suara dari barisan tengah, cukup keras untuk kudengar.

"Mulai sekarang gak usah dekat-dekat sama orang sombong!" ucapnya lagi seolah saling bersahutan.

Aku menunduk, mempercepat langkah, dan segera duduk di kursiku. Aku menatap lurus ke permukaan meja yang biasa menjadi penopang saat aku belajar. Di sebelahku, kursi Aldi masih kosong. Namun, ketika bel masuk berbunyi dan Aldi datang, ia tidak lagi melirik ke arahku.

Dengan gerakan yang sengaja dibuat-buat, ia menggeser kursi dan mejanya beberapa sentimeter menjauh dari mejaku, menciptakan sebuah celah kosong seolah mempertegas bahwa aku adalah sosok yang memang perlu dijauhi untuk keamanannya.

Sepanjang jam pelajaran, aku menjelma menjadi hantu di dalam kelas. Saat Bu Rina meminta kami membentuk kelompok kecil untuk membaca cerita, anak-anak dengan cepat saling menarik lengan baju teman mereka.

Aku hanya duduk mematung. Ketika Dimas melihatku masih sendirian, ia sengaja berujar lantang kepada teman-temannya.

"Kelompok kita sudah penuh ya, nggak usah ajak-ajak orang yang sok jagoan." 

Beberapa anak tertawa kecil, sementara yang lain menatapku dengan pandangan sinis yang menusuk tepat ke ulu hati. Ketakutan di dalam dadaku tumbuh berkali-kali lipat lebih besar dari sebelumnya.

Jika kemarin aku takut karena disuruh-suruh, kini aku jauh lebih takut karena dijauhi oleh teman-temanku.

Tak ingin menarik perhatian orang lain yang semakin membuatku terkena masalah, aku berdiam diri menunggu perintah dari Bu Rina. Aku memilih untuk semakin tenggelam dalam diam. Aku tidak pernah lagi mengangkat kepala jika tidak terpaksa. Aku melipat tubuhku sekecil mungkin di atas kursi, berharap aku bisa menyatu dengan dinding atau menghilang di balik bayang-bayang jendela.

Lihat selengkapnya