Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #17

17. Akhirnya Mama Tahu

Perubahan yang terjadi pada diriku tidak lagi seperti debu tipis yang bisa disapu sekilas lalu tak terlihat. Perubahan itu menjelma menjadi kabut tebal yang ikut masuk ke dalam rumah. Setelah berminggu-minggu menelan semuanya sendiri di bangku ketiga dekat jendela ruang kelas, pertahananku mulai menunjukkan sikap yang tak biasa.

Mama adalah orang pertama yang harus menyaksikan bagaimana perubahan itu perlahan menghancurkanku.

Kekhawatiran Mama tidak lagi berupa kecurigaan sekilas di ambang pintu kamar. Setiap pagi, saat jam dinding merangkak mendekati waktu berangkat sekolah, tubuhku otomatis menegang.

Aku akan menghabiskan waktu terlalu lama hanya untuk mengikat tali sepatu, atau berdiri terpaku di depan pintu dengan tatapan kosong yang dipenuhi ketakutan.

Aku tidak lagi mengeluh dinginnya udara pagi, aku hanya takut pada apa yang menunggu di balik gerbang sekolah. Beberapa kali aku bilang tidak ingin sekolah dengan alasan pusing, tapi Mama tetap menyuruhku sekolah karena tidak terlihat kalau tubuhku demam atau pun sakit lainnya.

"Mama akan membiarkanmu di rumah kalau memang betul sakit," ucap Mama membuatku akhirnya bungkam dan terpaksa berangkat ke sekolah dengan beban yang begitu berat di pundak.

Puncaknya terjadi pada suatu sore di penghujung pekan. Aku baru saja pulang dengan seragam yang kotor di bagian lutut karena dorongan Bayu, Dimas, dan teman lainnya di lapangan.

Saat aku melepas baju di dekat mesin cuci, aku tidak menyadari bahwa Mama sedang berdiri di dapur dan memperhatikanku.

Sinar matahari sore yang menerobos lewat ventilasi dapur menyiram tubuhku, dan di sana, di balik kulit punggung dan lenganku, nampak bekas lebam baru yang keunguan. Jauh lebih jelas, jauh lebih besar, dan jauh lebih banyak daripada beberapa waktu lalu.

Itu adalah jejak dari hukuman-hukuman yang kudapatkan karena memilih untuk tidak lagi menuruti keinginan mereka.

Mama menjatuhkan kain lap yang dipegangnya. Langkah kakinya mendekat dengan terburu-buru, suaranya bergetar hebat saat memanggil namaku.

"Raka, Demi Tuhan, Nak. Ini kenapa? Jawab Mama dengan jujur!" ucap Mama dengan tegas dengan membolak balik tubuhku.

Lihat selengkapnya