Keputusan telah diambil. Setelah malam yang panjang dipenuhi rasa bersalah dan air mata yang mengering di pipi Raka, Mama tahu bahwa berpura-pura tidak tahu adalah sebuah kejahatan.
Ketakutan Raka memang besar, namun membiarkan putranya kembali ke lingkungan tidak aman itu sendirian setiap pagi adalah hal yang jauh lebih mengerikan.
Pagi itu, setelah memastikan Raka masuk ke dalam kelas dengan kepala menunduk seperti biasa, Mama tidak langsung pulang. Langkah kakinya yang biasanya terburu-buru kembali ke urusan rumah, kini berbelok menuju ruang guru.
Dengan jemari yang bertautan menahan cemas, Mama mengetuk pintu kayu yang memisahkan dunia luar dengan otoritas sekolah.
Bu Rina sedang merapikan beberapa buku cetak ketika Mama masuk. Senyum ramah guru wali kelas itu perlahan berubah menjadi ekspresi penuh perhatian saat melihat gurat lelah dan kecemasan yang mendalam di wajah Mama. Mereka duduk berhadapan di sebuah meja pojok yang agak tenang.
Di sana, di balik pintu kantor guru yang tertutup rapat, Mama menumpahkan segala rahasia yang selama ini tersimpan di bawah lengan baju Raka.
"Bu, mohon maaf ya kalau saya ganggu," ucap Mama sangat sungkan.
"Tidak apa-apa, Mama Raka. Silahkan ada hal apa yang ingin dibicarakan?."
Mama menceritakan tentang lebam kebiruan yang mulai menghiasi kulit putranya, tentang ketakutan hebat yang membuat Raka gemetar setiap kali memakai sepatu.
Mama juga menyampaikan hingga cerita tentang bagaimana anak bungsunya itu dipaksa menjadi pelayan bagi teman-temannya sendiri dan betapa histerisnya Raka semalam, memohon agar tidak ada orang dewasa yang ikut campur.
"Terimakasih ya Mama Raka, nanti saya akan mencoba untuk menegur anak-anak agar lebih baik lagi," ucap Bu Rina membuat Mama merasa lebih tenang.