Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #19

19. Aku, si Anak Cengeng

Jam-jam terakhir di sekolah hari itu terasa berjalan lambat. Aku menghabiskan sisa waktu pelajaran dengan menghitung setiap detik yang berdegup di dalam dada.

Ketakutan tentang apa yang dibicarakan Mama dan Bu Rina di kantor guru tadi pagi belum juga menguap.

Ketika bel yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi nyaring, sorak lega anak-anak langsung memecah kesunyian. Kursi-kursi berdecit, resleting tas ditarik bergantian, menciptakan ritme riuh khas akhir sekolah.

Aku dengan terburu-buru memasukkan buku terakhirku, bersiap untuk segera melesat keluar pintu.

Namun, ketukan penggaris kayu Bu Rina di atas meja guru seketika menghentikan semua pergerakan.

Tuk! Tuk! Tuk! 

"Anak-anak, diam sebentar. Sebelum pulang, ada hal penting yang ingin Ibu sampaikan," suara Bu Rina menggema dengan tegas, kali ini tanpa kehangatan yang biasanya menyertai.

Seisi kelas kembali tenang. Beberapa anak yang sudah menggendong tasnya terpaksa kembali menurunkan beban mereka ke atas meja.

Aku mencengkeram tali tas biruku erat-erat, merengkuhnya di depan dada seolah benda itu bisa melindungiku dari firasat buruk yang mendadak membuat ulu hatiku ngilu.

Bu Rina berdiri, melipat tangan di depan dada, lalu menatap kami satu per satu. Pandangannya sempat menyapu barisan belakang tempat Bayu duduk, sebelum akhirnya beralih ke arah tengah.

"Tadi pagi, Ibu menerima laporan dari salah satu orang tua murid di kelas ini," Bu Rina memulai, suaranya terdengar jernih di antara keheningan yang menegang.

"Beliau datang dengan penuh kepanikan, mengatakan bahwa anaknya sering diganggu, dimintai uang, bahkan sampai ada bekas luka di tubuhnya."

Jantungku rasanya berhenti berdetak seketika. Darahku berdesir dingin, menjalar dari ujung jari tangan hingga ke kepala.

Aku menunduk sedalam-dalamnya, menatap permukaan meja kayu seolah-olah aku bisa menembusnya dan menghilang ke dalam tanah.

"Ibu sangat menyayangkan hal ini," lanjut Bu Rina, napasnya terdengar berat.

"Kita ini sudah di sekolah dasar, bukan taman kanak-kanak lagi. Ibu ingin kalian belajar mandiri, belajar menyelesaikan masalah kecil di antara teman secara dewasa.

Ibu tidak suka jika ada anak yang sedikit-sedikit mengadu ke orang tua, lalu orang tuanya datang ke sekolah membuat masalah besar dari hal yang mungkin hanya gurauan biasa."

Lihat selengkapnya