Pura-pura Buta

rarapinku
Chapter #1

1. Surat Terakhir

Pagi datang dengan mendung yang tak diundang. Kumpulan awan hitam itu sudah ada sejak semalam, menutupi cahaya mentari yang hendak meninggalkan malam yang sunyi. Perlahan, rintik rintik hujan turun, bukan hujan lebat yang menghentikan aktivitas, hanya gerimis yang cukup untuk membasahi tubuh.

Di SMA Cahaya Pemuda, pagi masih berlalu seperti hari sebelumnya. Gerbang yang dibuka, kelas kosong tanpa suara perlahan diisi oleh riuh murid-murid yang datang silih berganti. Tiap mereka membawa cerita baru pagi itu, basah, kehujanan dan mereka yang tidak terpengaruh oleh gerimis yang menghujan. 

Gelak tawa serta perbincangan pagi itu seketika berubah menjadi lengkingan teriakan. Mata yang melotot ketakutan, wajah yang pucat serta suara yang bergetar. Bisik-bisik terdengar, menyebar secara cepat dan luas di sekolah itu. 

"Ini adalah bunuh diri." Adam menarik sarung tangan karet yang ia gunakan. Matanya menelisik pada tempat yang sebelumnya terdapat darah yang mengering, tubuh kaku yang tidak bernyawa. Kerutan di kening Adam bertambah, menyayangkan masa muda yang berakhir begitu saja. 

Sayang sekali. Kenapa seseorang yang begitu muda memilih untuk mengakhiri hidupnya seperti itu? Masih banyak hal yang belum ia lihat, masih banyak hal yang perlu pemuda itu telusuri. 

Adam mendekati seniornya, Nathan, seorang penyidik kepolisian yang sudah berkecimpung di dunia ini lebih lama darinya. Lihatlah betapa jauhnya perbedaan mereka saat ini, ketika Adam masih sibuk menyayangkan tindakan si siswa, Nathan sudah menelusuri seluruh tempat kejadian. 

"Dokter forensik sudah mengkonfirmasi. Perkiraan kematian lima jam yang lalu," ujar Nathan dengan mata yang sibuk dengan kertas kecil di tangannya. Adam melirik kertas itu dari sudut matanya. 

"Lima jam lalu berarti sekitar pukul tiga dini hari." Adam mengkonfirmasi. "Apa yang dilakukan seorang siswa di sekolah pukul tiga pagi? Belum lagi dia masih menggunakan seragam sekolah."

"Satu-satunya CCTV yang berfungsi hanya di bagian gerbang, sedangkan ada beberapa jalan keluar dan jalan masuk yang lain. Tidak ada penjelasan lain selain kertas yang berada di dalam kantong celana korban." Mata Adam menyipit.

Korban, Nathan menyebut murid itu sebagai korban. Jika dia adalah seorang korban, maka tentu saja ada pelaku.

Jemari panjang yang tidak lagi dibalut oleh sarung tangan karet terjulur mengambil secarik kertas yang sejak tadi tidak terlepas dari genggaman Nathan. Adam menelusuri kertas itu. Usang dan berantakan, dengan jejak remasan terbentuk pada permukaannya. 

Namun bukan itu yang menarik perhatiannya, melainkan susunan kata yang ditulis dengan tinta hitam di atasnya.

Aku lelah. 

Aku ingin mengakhiri semuanya di sini. 

Jangan salahkan siapapun. 


Tiga kalimat sederhana yang terlihat seperti pernyataan, menerangkan jika murid ini benar-benar mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari atap gedung sekolah.

"Sayang sekali, padahal dia masih begitu muda." Adam meluapkan isi pikirannya dengan lantang. 

Matanya tidak beralih dari kertas yang ia pegang. Bertekstur kasar dan lembab karena hujan gerimis yang mengguyur. Beruntung tulisan di dalamnya masih tertulis dengan jelas.

Nathan memilih diam, tidak menanggapi atau mengatakan sesuatu kepada Adam. Matanya tajam, melirik ke arah tempat di balik garis polisi. Keningnya berkerut, terlihat sedang berpikir keras. Ada hal mengganjal di pikirannya, namun untuk sekarang, ia memilih untuk menyimpannya terlebih dahulu. 

"Kita mulai dari para saksi. Temui murid-murid dan guru yang terakhir melihat korban."


***

Malam semakin dekat, Nathan tidak lagi menahan para guru dan staf yang tersisa. Semua petunjuk mengatakan satu hal, sayangnya secarik surat di dalam kantong plastik di saku celananya berkata lain. 

Lihat selengkapnya