Pagi datang dengan wajah yang berbeda. Hujan telah berhenti sejak dini hari, meninggalkan dedaunan yang masih dipenuhi embun. Cahaya matahari menembus sela-sela pepohonan dengan lembut, memantulkan warna keemasan di atas jalan yang masih basah.
Udara terasa sejuk. Burung-burung kecil bernyanyi dari ranting ke ranting, seolah tidak pernah ada kabar duka yang memenuhi halaman depan surat kabar pagi itu.
Di balik tembok Universitas Nusantara, kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Mahasiswa berlalu-lalang membawa buku dan laptop. Beberapa tergesa menuju ruang kuliah, sebagian lagi duduk di bawah pohon besar sambil mengulang materi sebelum kelas dimulai.
Suara langkah kaki, obrolan ringan, dan tawa bercampur menjadi irama yang akrab bagi siapa saja yang telah lama hidup di lingkungan kampus.
Di lantai tiga Gedung Bahasa, seorang pria berdiri di depan papan tulis.
Kemeja putih berlengan panjang yang digulung hingga siku, celana kain hitam, serta sepasang kacamata berbingkai tipis membuatnya tampak seperti dosen pada umumnya. Rambutnya dipotong pendek dan sedikit berantakan, seolah sisir hanya menjadi benda pelengkap di rumahnya.
"Bahasa." ujarnya sambil menuliskan sebuah kalimat di papan tulis.
"Adalah tempat paling buruk untuk menyembunyikan kebohongan." Seluruh ruangan menjadi hening. Puluhan mahasiswa memandangnya dengan saksama.
"Orang dapat mengendalikan ekspresi wajahnya. Mereka bisa melatih intonasi suara, bahkan mengatur gerakan tubuh agar tampak meyakinkan. Akan tetapi, pilihan kata sering kali lahir sebelum seseorang sempat berpura-pura." Ia meletakkan spidol di atas meja.
"Karena itu, dalam linguistik forensik, yang dicari bukan hanya apa yang dikatakan seseorang." Ia berhenti sejenak. Kedua bola matanya menelusuri setiap mahasiswa yang memperhatikan.
"Tetapi juga apa yang sengaja tidak ia katakan." Beberapa mahasiswa mulai mencatat dengan tergesa, yang lain hanya terpaku mendengarkan.
Mengikuti setiap kalimat yang keluar dari mulut dosen mereka. Namanya Raka Arya Pratama.
Di mata mahasiswa, ia hanyalah dosen linguistik yang terkenal pendiam, sulit ditebak, tetapi selalu mampu membuat teori bahasa terdengar hidup.
Tak banyak yang mengetahui bahwa sebelum berdiri di ruang kelas itu, ia pernah menghabiskan bertahun-tahun berjalan di tempat kejadian perkara, menghabiskan malam demi malam mencari jawaban dari kalimat-kalimat yang sengaja disembunyikan.
Masa lalu itu telah lama ia kubur.
Atau setidaknya, ia berusaha menguburnya.